Search:
Email:     Password:        
 





Helmy Faishal Zaini Melacak Sejarah dari Piringan Hitam

By content (Administrator) - 01 June 2013 | telah dibaca 2829 kali

Naskah: Gyatri Fachbrilian Foto: Dok.MO

Helmy mengaku baru setahun gemar mengumpulkan piringan hitam (PH). Ketertarikannya terhadap benda yang sudah ada sejak tahun 1948 tersebut tak lepas dari pengaruh gurunya,  Habib Faiz Malang.

“Dia sudah lama memprovokasi saya ke piringan hitam. Awalnya saya tak terlalu ngeh. Setelah saya mendengarkan ternyata bagus sekali karena dia analog. Saya tanya kenapa piringan hitam lebih nikmat ketimbang CD sekalipun. Ia menjawab, CD itu cakramnya terlalu tepat, sementara telinga itu butuh geser sedikit. Makanya jika orang sudah ke piringan hitam, kecenderungannya CD akan ditinggalkan,” terang Pak Menteri.

Pembangunan Daerah Tertinggal ini. Setiap dua minggu sekali, terutama hari Sabtu dan Minggu, suami dari Santi Anisa tersebut kerap menyambangi Jl. Surabaya yang merupakan sentral PH di Jakarta. “Saya kalau hunting biasanya dari pukul 11.00 WIB sampai tutupnya toko-toko. Kadang ditemani isteri, Patwal juga sering ikut, tapi saya bilang ke Patwal jangan ikut terus karena saya kan ingin lebih leluasa,” ucapnya.

Karena seringnya ia ke Jl. Surabaya, beberapa penjual bila menawarkan PH kepadanya tidak menggunakan standar harga. “Salah satunya adalah Mang Ebod,” ucapnya. Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga rajin berburu PH di internet. Terkadang para penjual PH tidak menarifkan harga. Mereka sudah senang jika piringan hitamnya dibeli oleh Pak Menteri. Soal harga, menurut Helmy, sangat bervariatif. Dan dalam perburuan, ia pun sering menemukan berbagai hal menarik, salah satunya penemuan plat yang sangat langka. Meski tergolong langka, plat tersebut harganya cukup murah hanya Rp20 ribu.

Tak jarang, karena hobinya mengoleksi piringan hitam, per item ia beli seharga Rp500 ribu. Hingga saat ini PH yang dimilikinya telah mencapai 4.000-an. Dan ternyata, Helmy tidak hanya senang mengoleksi PH, CD pun juga ia koleksi. “Ya, memang yang terbanyak piringan hitam, tapi saya koleksi juga CD. Kalau digabung jumlahnya sudah ada sekitar 7.000-an,” akunya.

Ketika ditanya piringan hitam apa yang paling istimewa, ia menyebutkan ada lima PH miliknya yang paling unik dan antik. Pertama, PH Proklamasi karena bernilai historis, most expensive, dan valuable record serta cara mendapatkannya yang sulit. Untuk mendapatkannya, ia harus googling dengan ekstra sabar.

“Saya googling dengan kategori ‘Proklamasi’ tidak ketemu, akhirnya saya ketik ‘Proklamasi Antik’, barulah ketemu itu pun ada di halaman ke-7. Biasanya orang bertahan hanya di halaman 1 atau 2,” katanya. Ia mengisahkan, PH tersebut dibeli dari seseorang bernama Ayub dengan harga yang menurutnya sangat miring.

”Kalau dia tahu harga pasar/kepingnya di bursa piringan hitam, mungkin ia bisa pingsan karena mencapai Rp100-150 juta,” ucapnya. Namun, dari tangan Ayub, ia hanya mengeluarkan kocek sebesar Rp300 ribu untuk mendapatkannya. Dari Ayub, Helmy juga membeli gramophone (pemutar piringan hitam) second dengan kondisi sudah rusak. “Semuanya saya beli seharga Rp6 juta,” celetuknya.
       
Kedua, album ‘Mari Bersuka Ria‘ dengan irama Lenso karangan Bung Karno. Album ini antara lain berisi lagu yang fenomenal, yakni Genjer-Genjer karya aktivis Nahdlatul Ulama(NU) Banyuwangi Muhammad Arief, yang diciptakan pada 1942 sebagai kritik terhadap Jepang, lalu dipolitisi sebagai lagu PKI dan sempat dilarang pada jaman Pak Harto. Dalam album ini, lanjut Helmy, diberi kalimat pengantar,

“Saya restui, setudju diedarkan” dengan tanda tangan Bung Karno tahun 1965. “Kalau browsing di internet, saya dapat Rp300-500 ribu dan sudah ada yang menawar album ini Rp1 miliar,” tambahnya. Ketiga, lagu ‘In dan Dip’ yang dibawakan Rhoma Irama berduet dengan Elia Kadam. Sebagai salah satu penggemar berat Rhoma Irama, ia juga mengoleksi berbagai lagu Rhoma Irama lainnya.

Bahkan, ia masih memiliki lagu saat Rhoma masih membawakan lagu pop dengan band ‘De Galaxies’. “Saya juga punya piringan hitam yang ditandatangani langsung olehnya saat berkunjung kesini, jadi sangat mahalkan?” tandas lulusan Universitas Paramadina tersebut. Keempat, piringan hitam Waljinah volume satu dan kelima, PH milik Koes Plus.

“Nah, kelima pitringan hitam inilah yang paling unik dan antik. Karena sampai sekarang, masih banyak diburu orang,” imbuhnya lagi. Selain itu, Helmy juga memiliki PH Titiek Puspa dan Benyamin Sueb. Sementara untuk lagu-lagu luar negeri, salah satu yang dimilikinya adalah “The Shadow of Your Heart” Tommy Bennett. Dalam merawat PH, Helmy mengatakan banyak teori dari para pedagang. Untuk itu, ia sampai memiliki vacuum sendiri untuk membersihkan piringan hitam agar tetap lestari.

Selain PH, menteri termuda di pemerintahan SBY-Boediono itu juga memiliki beberapa pemutar PH a.l Merk Edison (1918), turntable (2012), dan jenis portable. Playernya pun bermacam-macam, tapi yang paling disukainya adalah merk gramophone keluaran 1942, yang kondisinya masih mulus. Agar pemutar PH menjadi awet, ia sering mengontrol stylus-nya (jarum pemutar PH). Ia pun berbagi tips mengenai ini.

“Ya, kalau mau awet, jika sudah 2 plat yang diputar, jarumnya harus diganti dan kalau sifatnya teknis, yang saya lakukan, ya dibawa ke Jl. Surabaya,” paparnya. Di Indonesia, piringan hitam mulai digunakan sebagai alat perekam sekitar tahun 1957. Salah satu perusahaan rekaman yang berjaya kala itu dan memproduksi piringan hitam adalah Lokananta di Surakarta. Ia sendiri pernah mengunjunginya dan mendengarkan aspirasi dari sahabat Lokananta (orang-orang yang hidupnya kembali ke piringan hitam).

Aspirasi yang diterimanya itu kemudian ia sampaikan kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Dahlan pun memintanya untuk mencari orang yang bisa mengelola Lokananta dengan baik. “Hingga saat ini saya tengah mencari orang untuk direkomendasikan,” ujarnya. Lokananta, kata Helmy, jika dikelola dengan baik bisa menyelamatkan lagu-lagu daerah Indonesia yang pernah diaku menjadi milik negara lain. Sampai kini perusahaan tersebut masih banyak menyimpan dokumen lagu yang diterbitkannya seperti lagu Terang Bulan terbitan 1965. Karena tak terawat, lagu ‘Negaraku Malaysia’ pun terinspirasi dari karya Saiful Bahri itu.

Ceritanya, dulu Bung Karno pernah menghadiahi plat piringan hitam ke pemerintah Malaysia. Begitu pula dengan lagu ‘Rasa Sayange’ yang sempat diklaim Malaysia. Menurut Helmy, kalau membuka data di Lokananta, lagu tersebut bisa dibuktikan berasal dari Indonesia. Oleh karena itu, sejarah piringan hitam di Indonesia perlu dilestarikan. Keseriusannya dalam menghidupkan kembali PH di Indonesia, juga ditunjukkan dengan mengunggah ke youtube video dirinya yang tengah memutar piringan hitam.

Ia juga tak ragu men-share video tersebut ke blognya, kanghelmy.com. Pria asal Cirebon itu juga akan menkonversikan piringan hitam ke dalam format CD atau USB. “Ini akan di input ke komputer saya, dibuat seperti versi digitaldreamdoor.com,” katanya. Di masa depan, Helmy terobsesi untuk memiliki sebuah museum yang mengapresiasi karya seni Indonesia. Dan ia siap mewakafkan koleksinya itu jika suatu saat pemerintah memintanya untuk menjadi dokumen negara.

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

     
                       

Popular

   

Photo Gallery

   
 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250