The Professional Lawyers 2018

Oleh: Iqbal Ramdani () - 26 July 2018

Naskah: Giattri F.P. Foto: Sutanto & Dok. Pribadi

Lebih dari dua dasawarsa sosok satu ini malang melintang di dunia hukum, tentunya ia telah memakan asam garam. Terlebih pengalaman pada semua aspek hukum dari pasar modal, investasi, dan restrukturasi korporasi serta perbankan. Maka, tak ayal pria berdarah Sunda ini masuk ke dalam daftar ‘Indonesia’s Top 100 Lawyers 2018’ dari Asia Business Law Journal.

 

Ary Zulfikar dikenal sebagai sosok yang hangat dan simpel, saat ditemui Men’s Obsession di kantornya yang berada di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan santai ia mengungkapkan makna pencapaian meraih gelar prestise sebagai salah satu pengacara top di Indonesia. “Pada prinsipnya dalam mengerjakan sesuatu, kita jangan berpatokan pada apa yang akan kita dapatkan nanti, namun berikan yang terbaik, dengan sendirinya orang akan memberikan apresiasi kepada kita,” tuturnya seraya tersenyum. Lebih lanjut, pria yang semula bercita-cita menjadi wartawan seperti profesi yang dilakoni ayahnya itu menuturkan, perjalanan karirnya di dunia hukum. Selepas menuntaskan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran, Bandung, ia menjadi konsultan pasar modal di firma hukum Kartini Muljadi & Rekan. Untuk memperkaya pengalamannya, terutama di area pasar modal, ia kemudian bergabung dengan lembaga penunjang pasar modal, seiring dengan berkembangnya kegiatan pasar modal di era tahun 1990-an, yaitu PT Kustodian Depositori Efek Indonesia (KDEI). 

 

Setelah berlakunya Undang-undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang mewajibkan fungsi Kustodian dan Kliring transaksi Efek, kemudian ia bergabung dengan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sehingga ikut terlibat dalam penyusunan peraturan transaksi efek tanpa warkat (scripless) pada awal dimulainya transaksi scripless di pasar modal Indonesia. Pada saat krisis keuangan melanda Asia Tenggara tahun 1998 dan Indonesia termasuk negara yang terkena imbas krisis keuangan, ia pun bergabung membantu Pemerintah Republik Indonesia pada lembaga penyehatan perbankan, yaitu Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan juga turut andil sebagai anggota tim perumus yang melakukan studi banding ke beberapa negara untuk merumuskan tentang pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dalam Badan ini, ia telah menghadapi berbagai jenis masalah hukum sehubungan dengan rekapitalisasi bank dan resolusi aset. Peraih gelar Master Hukum dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta itu juga dipercaya menangani proses negosiasi dalam penyelesaian pemegang saham dan kegiatan restrukturisasi perusahaan.

 

Banyak suka dan duka yang dialami Zulfikar sepanjang perjalanan kariernya di bidang hukum, terlebih pada saat melakukan penanganan penyelesaian perusahaaanperusahaan yang terkena imbas dari krisis keuangan yang multidimensi pada saat itu. Tuntutan pekerjaan untuk menyelesaikan suatu tugas yang merupakan tanggung jawabnya, membuat keseharian Zulfikar banyak dihabiskan di ruang kerja saat itu bahkan kadang mengorbankan waktunya untuk kegiatan lain. Berbekal pengalaman-pengalaman yang telah ia dapatkan, pada 2004, pria yang akrab disapa ‘Azoo’ oleh teman dan koleganya itu, membuka firma hukum sendiri bernama AZP Legal Consultants. “Projects yang sering ditangani oleh kantor kami, selain transaksi pasar modal dan aksi korporasi, juga terlibat dalam membantu Pemerintah RI dalam pembiayaan proyek Infrastruktur, termasuk penerbitan Obligasi Pemerintah maupun Sukuk untuk pembiayaan proyek pembangunan di Indonesia,” terang Anggota Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM) yang juga salah satu Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Publikasi & IT HKHPM. 

 

Bagi Zulfikar tantangan mengelola firma hukumnya adalah bagaimana membuat orang percaya dan satisfied dengan hasil pekerjaan AZP. “Yang terpenting adalah memberikan yang terbaik dari setiap proses pekerjaan untuk mendapatkan maksimal. Jika kita fokus dan mengerjakan segala sesuatunya dengan passion maka hasilnya juga akan baik. Saya lebih mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas,” tegas Zulfikar. Pola leadership yang Zulfikar bangun adalah leading by example. “Jadi memberikan contoh bagaimana seharusnya. Ada pula sistem reward and punishment. Kalau berprestasi kita kasih reward, sebaliknya jika berkelakuan buruk kita kasih punishment,” terang penggemar traveling tersebut. Di sela kesibukan, Zulfikar selalu meluangkan waktu untuk melakoni hobinya, mulai dari bermain golf, riding, mengotakatik motor, hingga mengoleksi action figure. “Salah satunya Joker ini,” kata Zulfikar seraya menunjukkan koleksinya.

 

“Ia adalah musuh superhero Batman. Dalam setiap movie selalu ada yang baik dan buruk. Artinya tak bisa dipungkiri di dunia ini ada yang baik dan buruk,” tuturnya. Lebih lanjut Zulfikar mencontohkan konsep filosofi kuno Tionghoa, yakni Yin dan Yang. Biasanya dipakai untuk mendeskripsikan sifat yang saling berlawanan, namun saling berhubungan serta saling mengisi satu sama lain. Yin lebih di deskripsikan kepada sisi hitam dan Yang adalah sisi putih, sebuah sisi warna yang berlawanan. Titik kecil hitam dan putih yang berada pada Yin dan Yang menggambarkan sisi yang saling mengisi satu dan lainnya. “Nah sekarang tinggal bagaimana, kita saling membangun satu sama lain. Jangan saling menyalahkan atau menjatuhkan karena hidup seperti roda berputar. Mungkin saat ini kita sedang berada di atas, tapi kita tidak pernah tahu ke depan akan seperti apa,” jelas penyuka kuliner khas sunda itu serius.

 

Zulfikar juga memiliki ketertarikan terhadap aspek sosial, kebetulan ia aktif dalam organisasi Padjajaran Alumni Club. “Kami fokus di bidang pembinaan, pengembangan sumber daya manusia, juga beberapa kegiatan yang memang untuk charity. Jadi aktualisasinya tidak hanya bekerja, tapi bagaimana kami memiliki nilai lebih untuk sekitar,” terang Zulfikar. Menutup pembicaraan Zulfikar menuturkan obsesinya, turut berkontribusi membangun bangsa dan negara. “Waktu kecil, kita kan diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua serta berguna bagi bangsa dan negara. Nah, bagaimana kemudian aktualisasi pekerjaan kita bermanfaat tidak hanya untuk lingkungan sekitar, tetapi juga bagi tanah air. Karena itu, saya baik di AZP maupun di organisasi profesi dan sosial yang saya geluti selalu ingin memberikan konstribusi positif kepada lingkungan dalam lingkup kecil maupun bangsa dan negara secara umum. Partisipasi kami pada project-project pemerintah maupun sosial merupakan bagian aktualisasi dari eksistensi diri untuk turut andil dalam pembangunan Indonesia,” pungkas pecinta pantai itu.