GoTo Bangkit dari Krisis, Begini Strateginya Mengubah Arah

Oleh: Angie (Editor) - 26 March 2025

 

GoTo bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang menghadapi tekanan finansial dalam beberapa tahun terakhir, tapi cara mereka bangkit dari keterpurukan patut dicermati. Saat banyak startup kesulitan bertahan, GoTo justru mencatat perubahan drastis dengan memangkas kerugian hingga 96% dalam setahun. Langkah ini tidak hanya soal efisiensi biaya, tapi juga strategi bisnis yang lebih tajam, pemanfaatan data yang lebih cerdas, dan keputusan berani yang mengubah arah perusahaan.

Catatan GoTo tahun lalu jarang terjadi di industri teknologi. Dari defisit $1,3 miliar di 2023, kini angka itu menyusut menjadi $52 juta. Para analis menyebutnya sebagai contoh nyata bagaimana inovasi dan efisiensi bisa menyelamatkan bisnis digital dari jurang kejatuhan. Tapi, bagaimana mereka melakukannya?

 

GoFood Jadi Premium, Taruhan yang Berbuah Manis

Di tengah persaingan sengit dan tren belanja yang berubah, GoTo mengambil langkah yang cukup berani, yakni mengurangi ketergantungan pada diskon dan mulai menyasar pasar premium. Mereka meluncurkan GoRide Express dan GoFood Express, layanan dengan harga lebih tinggi, tetapi menjanjikan pengalaman lebih eksklusif untuk konsumen yang punya daya beli lebih.

Hasilnya, segmen pengguna dengan pendapatan di atas Rp15 juta per bulan kini menyumbang 22% dari total pendapatan transportasi dan 18% dari GoFood. "Kami tidak bisa terus bertumpu pada volume semata," kata Patrick Walujo, CEO GoTo. "Yang kami bangun adalah layanan yang lebih cepat, lebih personal, dan punya nilai tambah."

 

GoPay, Senjata Rahasia yang Meningkatkan Arus Kas

Saat banyak fintech sibuk mengejar pertumbuhan pinjaman, GoPay mengambil jalur berbeda. Selain menjadi tulang punggung transaksi di ekosistem GoTo, GoPay kini juga menggarap pinjaman mikro dengan pendekatan berbasis data.

Di kuartal IV 2024, GoPay menyalurkan Rp5,2 triliun kredit dengan tingkat kredit macet hanya 1,8%, jauh lebih rendah dari rata-rata industri. Rahasianya? Sistem yang menganalisis riwayat transaksi di Gojek dan Tokopedia sebelum memberikan pinjaman. "Misalnya, driver Gojek yang rutin mengantar pesanan selama tiga tahun bisa mendapat limit lebih besar meski tanpa agunan," ujar Walujo.

 

 Selanjutnya: Efisiensi Tanpa Ampun, Tapi Tepat Sasaran