GoTo Bangkit dari Krisis, Begini Strateginya Mengubah Arah

Oleh: Angie (Editor) - 26 March 2025

.

 

Efisiensi Tanpa Ampun, Tapi Tepat Sasaran

Perbaikan finansial GoTo tidak terjadi begitu saja—transformasi operasional besar-besaran menjadi kunci di balik perubahan ini. Biaya korporasi dipangkas 34%, beberapa kantor regional ditutup, dan 40% tim non-inti dialihkan ke sistem outsourcing. Efisiensi terbesar datang dari teknologi. Dengan algoritma AI terbaru, jarak tempuh driver Gojek berhasil dikurangi 12%, sementara waktu antar GoFood di Jabodetabek turun dari 45 menit menjadi 32 menit.

Siapa sangka, iklan justru menjadi salah satu penyelamat GoTo. Pendapatan dari iklan di GoFood melonjak 92% dalam setahun, menyumbang Rp1,1 triliun ke kas perusahaan. Kuncinya ada pada data. Dengan menganalisis 83 juta transaksi bulanan, GoTo menawarkan paket iklan yang bisa menyasar pelanggan dengan presisi tinggi. "Warung bakso di Depok bisa langsung menarget pelanggan di radius 3 km yang minggu lalu mencari 'makanan pedas' di aplikasi," jelas Hans Patuwo, COO GoTo.

Keunggulan terbesar GoTo ada pada ekosistemnya. Pengguna yang memakai tiga layanan sekaligus, misalnya, belanja di Tokopedia, bayar pakai GoPay, dan kirim dengan GoSend, mencatatkan nilai transaksi 4,5 kali lebih tinggi daripada pengguna satu layanan.

 

Tantangan di Depan Mata

Meski pencapaian GoTo patut diapresiasi, jalan mereka belum sepenuhnya mulus. Persaingan dengan Grab di sektor keuangan semakin ketat, sementara aturan OJK soal pinjaman digital bisa memperlambat pertumbuhan GoPay. Selain itu, layanan premium bisa terkena dampak jika ekonomi melambat.

GoTo memang masih menghadapi tantangan yang signifikan, termasuk dampak dari pengunduran diri Tokopedia dan penurunan nilai aset. Keputusan untuk menjual sebagian besar saham Tokopedia kepada TikTok juga mempengaruhi nilai perusahaan secara keseluruhan.

Meskipun GoTo menunjukkan perbaikan dalam kinerja keuangan, tantangan struktural masih ada, dan keberhasilan jangka panjangnya akan bergantung pada strategi yang diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut

Tapi bagi pelaku bisnis, kisah GoTo memberi tiga pelajaran penting:

1. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan hal baru, tapi bisa berarti menyusun ulang yang sudah ada (seperti GoPay yang menggabungkan pembayaran, data, dan kredit).

2. Efisiensi bukan hanya urusan memangkas biaya, tapi memastikan pemangkasan itu tidak membunuh inovasi.

3. Ekosistem yang terintegrasi adalah pertahanan terbaik dalam menghadapi disrupsi.

Dengan tren kenaikan yang konsisten dan fundamental yang semakin solid, saham GOTO menunjukkan prospek yang menjanjikan di tengah pemulihan bisnis perusahaan. Meskipun masih mengalami fluktuasi, perbaikan kinerja keuangan dan optimisme pasar memberi sinyal bahwa GoTo tidak hanya bertahan, tetapi juga mulai mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama di ekosistem digital Indonesia.

Seperti kata Patrick Walujo, CEO GoTo, "Kami tidak hanya membangun perusahaan, tapi infrastruktur ekonomi digital Indonesia." Dengan hasil yang mereka tunjukkan, visi itu terasa semakin nyata.