Search:
Email:     Password:        
 





Fadly Zon Library: Indonesian Culture and Intelectual Heritage

By content (Administrator) - 01 April 2013 | telah dibaca 1688 kali

Naskah: Gyatri F., Foto: Sutanto & Dok. Library

“Kalau kita mau tahu hari ini, kita harus tahu masa lalu. Kalau kita mau tahu hari depan, kita harus tahu hari ini.” Itulah yang mendasari berdirinya Fadli Zon Library (FZL).

Perpustakaan yang didirikan Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Fadli Zon, ini, bukan perpustakaan biasa, namun khusus mengoleksi warisan budaya sekaligus warisan intelektual Indonesia. Inilah oase intelektual dari sosok yang dikenal sebagai seorang intelektual, penulis, budayawan, pebisnis, dan kini aktivis politik.

Laki-laki kelahiran 1 Juni 1971, ini, mengaku sangat menyukai segala sesuatu yang berbau heritage Indonesia. Menurutnya, warisan budaya dan warisan intelektual Indonesia harus dijaga dan dilestarikan dengan baik. Ia membuktikan kecintaannya dengan mendirikan FZL, Rumah Budaya di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat, dan juga mengetuai Lingkaran Keris Indonesia (Indonesia Keris Circle) yang bertujuan memajukan keris Nusantara.

Menyambangi FZL di Jalan Danau Limboto C2/96, Jakarta Pusat, di bagian depan perpustakaan yang berdiri pada 2008 itu, kita akan ‘disambut’ Soekarno, Hatta, Panglima Sudirman, dan seorang pria berkacamata yang menyerupai profil sang pemilik, Fadli Zon. Patung-patung itu adalah karya seniman
patung Indonesia.

Melewati pintu masuk, bertengger lukisan yang menggambarkan suasana proklamasi, patung-patung kayu, pernak-pernik khas Nusantara, biola, dan berbagai penghargaan violis Indonesia kelas dunia, Idris Sardi, terpajang di lemari kaca.

Di lantai dua perpustakaan pribadi ini, tersimpan dengan baik sedikitnya 45 ribu buku, yang umumnya buku-buku tua dari zaman Hindia Belanda sejak 1700-an. Selain buku tua dan kuno, FZL juga juga menyimpan majalah, naskah kuno, dan ribuan lembar koran sejak abad ke-19.

Buku tertua adalah Het Amboinsch Kruid-Boek (Herbarium Amboinensis) karya Georgius Everhardus Rumphius terbitan tahun 1747, kemudian Histoire de Sumatra karya William Marsden terbitan 1788 dalam dua volume. Koran tua, antara lain, Selompret Malajoe (1862), Wazir Indie (1878-1979), Sin Po (1922-1955), Patriot (1946-1947), Berdjoang (1946-1947), Madura Syuu (1943-1945), dan lain-lain.

Ada pula koleksi keris dan tombak dari berbagai kerajaan di Nusantara, prangko sejak pra-filateli awal abad ke-19, prangko pertama Hindia Belanda (1864) hingga 2011, koleksi uang logam (koin), medali, dan uang kertas, antara lain, set koin zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai (Aceh), Banten, Jambi, Palembang, Cirebon, hingga zaman VOC, Hindia Belanda, dan Republik Indonesia, dan tak ketinggalan poster-poster film kuno yang dipajang sesuai kategori.

Berada di lantai 3, atmosfer
zaman perjuangan Indonesia terasa betul. Di sini tersimpan koleksi kaca mata para tokoh, mulai dari kacamata Bung Hatta, Mr. Sjafroeddin Prawiranegara, Mr. Mohamad Roem, Ruslan Abdulgani, BM Diah, Sumanang, Rosihan Anwar, Taufiq Ismail, dan budayawan Asrul Sani. Ada pula tongkat, dasi, dan ikat pinggang Bung Hatta, serta juga berbagai jas yang dikenakan Mr.Roem, tak terkecuali saat perjanjian Roem-Royen.

Beberapa setrika kuno, rokok yang diproduksi di Indonesia, kain tua dari berbagai daerah, piringan hitam (long play) dari musisi/penyanyi Indonesia sejak 1930-an hingga 1980-an.  Kemudian beragam topeng Nusantara, mulai dari Cirebon, Jawa, Sunda, Madura, koleksi fosil kepiting dan kayu, koleksi wayang kulit, suket, Cirebon, klitik, dan tentu saja koleksi lukisan dan patung dari sejumlah perupa terkemuka Indonesia.

Karena kecintaannya terhadap Heritage Indonesia tersebut, ayah dari Shafa Sabila Fadli dan Zara Saladina Fadli ini diganjar enam rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori Perpustakaan pribadi dengan koleksi keris terbanyak, koleksi koran tua terbanyak, koleksi piringan hitam terbanyak, koleksi mata uang logam kuno terbanyak, koleksi jumlah buku terbanyak, dan koleksi prangko terbanyak. Pada pameran Filateli Tokoh-Tokoh Nasional di Museum Prangko TMII pada 1-7 Oktober 2011, koleksinya meraih Medal Large Silver.

Pria bertahi lalat di pipi itu, mengisahkan, sedari SMP ia sudah menggeluti kegiatan itu. “Awalnya saya hobi mengumpulkan berbagai dokumentasi lama. lalu terbawa menjadi kebiasaan, dan saya juga merasa ada yang membimbing untuk ke sana-sini. Akhirnya barang-barang ini terkumpul dan saya ingin memeliharanya,” ujarnya.

Dalam mengumpulkan koleksinya, ia berburu ke berbaai tempat di Tanah Air. “Karena banyak yang tahu saya koleksi koran, buku, dan lainnya. Lama-lama saya banyak ditawarkan orang juga,” ujarnya.

Lulusan program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Budaya UI, ini, tidak pernah memikirkan biaya dalam mendapatkan barang-barang tersebut. Kalau ada yang menarik, bernilai sejarah atau seni yang saya suka, tanpa pikir panjang saya koleksi. “Tapi terkadang jodoh-jodohan juga,” akunya.

Di antara koleksinya, ada sediktinya 81 foto eksekusi Kartosoewirjo, tokoh DI/TII Jawa Barat. Ia mendapatkan foto bersejarah ini dari kolektor dalam negeri. Foto-foto itu sudah diberi keterangan (caption) dari rangkaian menjelang eksekusi hingga Kartosoewirjo dimakamkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, sekitar September 1962.

Foto-foto itu mulanya hendak dibeli warga negara asing, namun Fadli merasa lebih baik dijadikan koleksi pribadi. Setelah dua tahun dikoleksi, ia memutuskan untuk mempublikasikannya dengan menerbitkan buku berjudul Hari Terakhir Kartosoewirjo. Ia berharap penerbitan buku ini akan melengkapi potongan sejarah yang buram. Apalagi mengingat  tata cara dan lokasi eksekusi Kartosowirjo yang simpang siur. 

Untuk masalah perawatan benda-benda koleksinya, ia tak segan turun langsung, Khusus untuk merawat keris, ia menyerahkan pada ahlinya untuk menjamas (memandikan keris) juga mewarangi (merendam bilah keris dalam larutan khusus warangan untuk memunculkan pamor). Untuk buku,  ia merawat dengan cara fumigasi dua tahun sekali, yang dikerjakan oleh ahli dari Perpustkaan Nasional. “Ini untuk menghindari rayap,” ungkapnya.

Bukan Cuma di Jakarta. Sebab di Sumetara Barat, Fadli juga mendirikan Rumah Budaya Fadli Zon, yang mengoleksi lebih dari 700 judul buku bersejarah bertemakan Minang, dan barbagai koleksi peninggalan sejarah kuno, seperti, keris luk sembilan asal Pagaruyung yang dibuat pada abad ke-18, songket lama, serta sejumlah lukisan kuno. Termasuk fosil kerbau berusia dua juta tahun dan fosil-fosil kayu yang telah menjadi batu diletakkan di sana.

Bagi putra pasangan Zon Harjo (alm) dan Ellyda Yatim, ini, kekuatan yang paling penting di Indonesia adalah  budaya. Politik, baginya, bisa memecah belah, tapi budaya justru merekatkan. “Budaya adalah perekat dari nasionalisme dan bangsa kita, sehingga kita harus merawat dengan baik  budaya ini, terlebih di era globalisasi,” tegasnya.

Orang yang tidak tahu budayanya kata Fadli akan terhempas dan mengalami disorientasi, tapi orang yang tahu jati diri budayanya akan tetap berdiri kokoh. “Saya juga punya kredo, kalau orang mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya, saya ganti menjadi, bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai kebudayaannya,” Fadli menuturkan.
 

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250