Search:
Email:     Password:        
 





Padnecwara, Pelestari Budaya Jawa

By content (Administrator) - 01 March 2013 | telah dibaca 2039 kali

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Dok. Padnecwara

Tanpa disadari, semakin lama kebudayaan bangsa ini semakin tergerus oleh modernisasi. Tarian Jawa, misalnya, mungkin sebagian orang kini sudah menganggapnya kuno dan membosankan. Faktanya, tidak banyak putra-putri bangsa yang peduli dan memiliki komitmen tinggi pada pelestarian budaya bangsa ini.


Tidak semua. Salah seorang putri Solo, Retno Maruti, justru berkomitmen tinggi untuk memelihara serta menjadikan tarian dan budaya Jawa mampu hidup dan terus berkobar di sepanjang waktu dan zaman, melalui sanggar kesenian Jawa Padnecwara yang didirikan bersama sang suami, Sentot Sudiharto.

Padnecwara yang diambil dari bahasa Sansekerta, padmi dan iswara mengandung makna permaisuri raja. Melalui Padnecwara, Retno membuat budaya Jawa tak lagi kuno, bahkan berhasil memukau penonton modern melalui beberapa pagelaran monumental.

Tak hanya itu, Padnecwara juga berhasil melahirkan banyak seniman dan penari klasik muda. Salah satu tujuan didirikannya Padnecwara memang dalam rangka memberdayakan generasi muda untuk turut memelihara budaya dan tradisi Jawa, serta bisa menjadi bangsa yang bangga akan budayanya.

Di usianya yang ke-37, Padnecwara berhasil bangkit, bahkan berdiri kokoh di tengah-tengah modernitas kota metropolitan, Jakarta. Bisa dikatakan tidak mudah dan cukup berat untuk menegakkan sendi-sendi tradisi dan budaya di tengah arus modernisasi kota. Namun Retno beserta suami dan putri semata wayangnya terus berjuang melawan arus hingga akhirnya pentas demi pentas berhasil diselenggarakan.

Hingga saat ini, Padnecwara terus berkomitmen untuk terus menghasilkan pertunjukkan tari Jawa yang berkualitas. Tercatat puluhan karya tari sudah dipentaskan. Di antaranya,  Sekar Pembanyun, Alap-alapan Sukeso, Roro Mendut, Keong Emas, Begawan Ciptoning, Kongso Dewo, Dewabrata, Portraits of Javanese Dance, dan Bedaya-Legong Calon Arang, dengan koreografer Ayu Bulantrisna Djelantik.

Selain itu, ada pementasan karya tari berjudul Suropati, dengan koreografer Retno Maruti dan Sentot, merupakan salah satu karya yang bekerjasama dengan BIMASENA Group, Hotel Dharmawangsa, pada November 2000. Suropati menceritakan kisah perjuangan hidup seorang pemuda yang berhasil membuat Belanda kalang kabut. Surapati merupakan salah seorang pemberontak di masa penjajahan yang memiliki rasa nasionalisme tinggi. 

Kemudian karya tari berjudul Abimanyu Gugur, juga telah berhasil dipentaskan beberapa kali di tempat yang berbeda. Pertama tahun 1986 di Gedung Kesenian Jakarta, tahun 1994 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, dalam acara Indonesia Dance Festival (IDF). Kemudian tahun 2002 dipentaskan ulang di Gedung Kesenian Jakarta, dan berkolaborasi dengan STSI Surakarta (sekarang ISI Surakarta) dipentaskan di Teater Besar, Surakarta, Jawa Tengah.

Salah satu karya yang menjadi salah satu masterpiece Padnecwara adalah Savitri. Karya ini pertama kali ditampilkan pada tahun 1978 di Teater Arena (yang sekarang telah menjadi Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki). Melalui karya ini, Retno Maruti berhasil meraih penghargaan Penulisan Naskah Tari Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta. Dalam karya ini, Savitri menceritakan tentang keteguhan hati seorang wanita.

Pada bulan April dan Mei 2011 lalu, Padnecwara mementaskan ulang kisah Savitri di Gedung Kesenian Jakarta. Adegan diawali dengan tarian yang dibawakan oleh beberapa penari putra. Di antaranya, Wahyu Santosa Prabawa, Agus Prasetya, Sarjiwo, Hermawan Sinung Nugroho, dan Joko Sudibyo.

Tarian pria ini merupakan hasil koreografi seorang dosen dan ahli tari Yogyakarta, Bambang Pujasworo. Setelah itu disusul munculnya satu persatu penari wanita. Mereka di antaranya, Retno Maruti, Rury Nostalgia, Wati Gularso, Yuni Trisapto, dan Nungki Kusumastuti. 

Para penari itu, mampu menari dengan sempurna dan selaras, sehingga membentuk satu komposisi yang indah. Keindahan tersebut tercipta karena adanya perpaduan dari penari putri lembut gaya Surakarta dan penari putra gagah gaya Yogyakarta. Ya, pada pentas Savitri ini, Retno memang mencoba memadukan gaya tari Surakarta dan Yogyakarta, yang sebelumnya tidak pernah dilakukan dalam naskah yang sama.

Tarian tersebut diiringi tembang yang ditulis oleh seorang komposer dan dosen ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta, Blacius Subono sebagai penata gending. Subono berhasil menulis tembang tersebut sesuai karakter situasi tokoh dalam setiap adegannya. Pada lagu-lagu tertentu, Subono bahkan memberi nuansa Gregorian, di mana dihadirkan suara 1, 2, dan suara 3.

Yang menarik, Subono bahkan melepaskan keterikatan pathet, di mana pathet itu biasanya menjadi pakem dalam tembang Jawa. Oleh karena itu, tembang-tembang yang mengiringi pementasan Savitri, sungguh terasa nuansa puitisnya yang terdengar mendayu, sekaligus kuat dan mampu membawa penonton ke dunia antah berantah.

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

     
    

Popular

     

Photo Gallery

   
 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250