Search:
Email:     Password:        
 





Awas! Andropause Mengincar Kaum Pria

By content (Administrator) - 20 June 2013 | telah dibaca 1838 kali

Naskah: A. Rapiudin Foto: Istimewa

Menopause atau gejala penurunan hormon ternyata tak hanya terjadi pada wanita. Kaum pria pun bisa mengalaminya. Untuk para pria, penurunan hormon yang bernama andropause ini bisa terjadi di atas usia 40 tahun. Jadi, tetap jaga kesehatan dan berhati-hatilah!

Andropause merupakan sebutan bagi pria yang mengalami masa-masa penuaan disertai dengan penurunan kualitas hormon testosteron. Di Indonesia, masih sangat sedikit pria yang sadar akan masalah penurunan hormon mereka. Padahal, andropause telah mempengaruhi kehidupan satu dari empat pria akibat ktivitasnya yang secara drastis menurun yang berujung pada penurunan kualitas hidup mereka. Ini  seiring dengan umur yang bertambah tua dan tingkat testosteron yang semakin berkurang.           

Seperti yang terjadi pada Dodi, pria berusia 45 tahun, seorang pengacara kriminal yang sedang berada di puncak kariernya. Pekerjaannya tersebut memerlukan mobilitas yang tinggi dan banyak menyita waktu. Seiring dengan bertambahnya usia, performa tubuhnya semakin menurun. Dia menjadi semakin pelupa dan mudah marah. Berat badannya meningkat meskipun nafsu makannya berkurang. Kariernya terancam akibat fokus dan staminanya yang menurun drastis. Di sisi lain, gairah bercinta dan keintimannya dengan sang istri semakin memudar, akibat libidonya yang berkurang. Praktis, kualitas hidupnya menjadi merosot.

Dr Alvin Ng, seorang pakar endokrinologi pada The Endocrine Clinic Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura mengungkapkan andropause yang terjadi pada kaum adam berbeda dengan menopause yang dialami pada wanita. Pada pria yang mengalami gejala andropause, fungsi seksual maupun fertilitas tidak berhenti sekaligus, namun terjadi penurunan secara bertahap.

“Jika tidak diobati, ketidakseimbangan ini dapat membuat Anda merasa seperti kalah dalam ‘pertempuran’ dan berjuang untuk mengatasinya di antara hari-hari penuh tuntutan pekerjaan, keluarga dan kehidupan sosial Anda,” ujar Dr Alvin Ng,  seperti rilis yang dilansir Parkway Pantai Indonesia Patient Assistance Centre.

Menurutnya, hormon mengontrol cara kita menanggapi lingkungan dan membantu untuk memberikan energi yang tepat dan gizi yang dibutuhkan tubuh agar berfungsi secara optimal.

Ia juga menyebutkan beberapa gejala andropause, di antaranya, kekurangan energi dan cepat merasa lelah, libido rendah, disfungsi ereksi, banyak berkeringat setiap malam, mood mudah berubah dan sensitif, depresi, bertambahnya berat tubuh walaupun nafsu makan berkurang, rambut banyak yang rontok, melemahnya daya ingat, denyut jantung yang tidak teratur / palpitasi, susah tidur atau insomnia, dan ginekomastia atau pembesaran puting payudara pada pria.

Jika seorang pria mengalami satu atau lebih gejala-gejala ini, mungkin saja dia sedang mengalami ketidakseimbangan endokrin. Endokrinologis dapat melakukan pengetesan dan melakukan sejumlah diagnosa juga latihan untuk memperbaiki ketidakseimbangan tersebut.

“Masalah hormonal membuat pria merasa seperti kinerjanya buruk dan kehilangan semangat di banyak aspek kehidupannya. Mereka mulai mengalami gejala-gejala tidak jelas seperti kelelahan, libido rendah, suasana hati berubah, dan bahkan kehilangan memori. Banyak dari pria mengabaikan ini sebagai efek dari penuaan, sehingga membuatnya tidak mencari pengobatan,” terang Dr Alvin.

Puncak hormon pertumbuhan laki-laki sekitar 20 tahun dan jatuh sekitar 14% setiap 10 tahun sesudahnya. Pada usia 40, hormon pertumbuhan telah hilang hampir setengahnya. Dan pada usia 80 tahun hanya memiliki sisa beberapa persen saja. Kekurangan hormon ini menyebabkan tanda-tanda penuaan semakin kentara.

Lantas, apakah efek andropause bisa dikurangi? Jawabannya bisa. Efek andropause bisa dikurangi melalui kombinasi perubahan gaya hidup dan program pengobatan yang disesuaikan dan keseimbangan hormon dapat dikembalikan sehingga tubuh dapat berfungsi normal lagi.

Demikian juga yang dialami oleh Dodi pasca menjalani pengobatan, dia merasa lebih kuat dan lebih energik di tempat kerja. Nafsu makan dan libidonya kembali pulih dan kualitas kehidupannya kembali normal.

Artikel ini dimuat di edisi 113, Juni 2013


Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250