Search:
Email:     Password:        
 





The Sukarno Center Wisata Sejarah di Pulau Dewata

By Benny Kumbang (Editor) - 23 August 2013 | telah dibaca 2962 kali

The Sukarno Center
Wisata Sejarah di Pulau Dewata


Naskah: Cucun Hendriana, Foto: Dok. TSC

Anda mau tahu perjalanan hidup Bung Karno dan apa saja peninggalannya? Datanglah ke TSC di Pulau Dewata. Museum yang berdiri 5 tahun lalu itu menghadirkan Sukarno sebagai sosok yang utuh, lengkap dengan semua warisan yang ditinggalkannya. Di TSC, Anda akan disuguhkan sejumlah literatur dan memoar sang proklamator RI


Berdiri pada 10 November 2008 di Bali, The Sukarno Center (TSC) terus fokus pada pengumpulan benda-benda warisan Bung Karno, baik berupa foto, buku, benda maupun tulisan lainnya. Sampai saat ini, TSC sudah berhasil merekam banyak jejak Sukarno yang tertata rapi dalam sebuah museum.
TSC digagas oleh seorang bangsawan Bali bernama Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III dari  Puri Agung Tegeh Kori Bali, yang sejak tahun 2009 ia telah bergelar sebagai Abhiseka Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX. Bekerjasama dengan Yayasan Sukma Sukarno Indonesia (YSSI) yang dipimpin oleh Sukmawati Sukarno Putri, maka lahirlah The Sukarno Center pada 2008.

Sebagai sebuah negara, Indonesia belum memiliki simbol bapak bangsanya yakni Bung Karno. Padahal di setiap negara di berbagai belahan dunia, bisa dipastikan memiliki sebuah institute atau center untuk melestarikan legacy dari pemimpinnya, sebut saja seperti The Lincoln Center of USA, Gandhi Institute of India dan lembaga founding father lainnya. “Atas dasar itulah, kami ada. Diharapkan TSC bisa menjadi sebuah pusat kajian internasional mengenai Bung Karno,” sebut I Gusti Ayu Sri Wichaya Gangga Dewi WS, sekretaris di TSC.

Pemilihan tokoh Sukarno yang dipilih pun bukan tanpa sebab. Diakui Dewi, Bung Karno adalah seorang pemimpin bangsa yang memiliki konsepsi mengagumkan. Teori dan ajarannya masih relevan hingga 100 tahun ke depan, ramalannya tentang neoliberalisme dan kapitalisme era modern kini telah  menjadi kenyataan. Konsepsi tentang Marhaen yang sangat agraris masih diperlukan bangsa Indonesia yang sebagian besar adalah petani dan nelayan.

Bung Karno adalah seorang cendekiawan, peraih 26 gelar Doktor Honoris Causa. Ia juga menggebrak dan menginspirasi Asia Afrika untuk memerdekakan bangsanya yang dipuncaki dengan gerakan Non-Blok, konferensi Asia Afrika dan juga New Emerging Forces. Ia adalah bapak Asia Afrika, belum ada tokoh Asia dan dunia yang pengaruhnya hingga lintas Negara pada saat Perang Dingin pasca 1945.

Menurutnya, saat ini koleksi di TSC terdiri dari beberapa jenis. Di antaranya, pertama, koleksi senjata kerajaan Nusantara dari berbagai kerajaan besar era Hindu Budha. Kedua, koleksi perangko Sukarno dari awal kemerdekaan hingga zaman akhir Bung Karno 1967. Ketiga, koleksi Uang Republik Indonesia (ORI) dari era awal hingga akhir kepemimpinan Bung Karno. Keempat, koleksi pusaka Bung Karno; replika dari tongkat serta keris. Kelima, koleksi foto–foto langka Bung Karno yang unpublished yang merupakan koleksi keluarga, atau sumbangan dari Negara/kerajaan sahabat. Dan kelima, koleksi buku–buku dan literatur sejarah seputar Bung Karno.

“Selain itu, ada juga koleksi umum dari Bali dan Jawa yang berkaitan dengan sejarah Bung Karno dan pendiri The Sukarno Center, seperti dua buah kereta kencana hibah Gusti Paundrakarna, Putra Mahkota Keraton Mangkunegaran Solo (cucu Bung Karno). Kalau ditotal, jumlahnya hampir mencapai 600 buah koleksi benda dan ke depan tentunya akan terus bertambah,” katanya.

Yang menarik, di TSC ada benda yang berusia hingga puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. Dikatakan Dewi WS, benda-benda seperti pusaka kerajaan itu bisa berusia hingga 500 tahun. Kalau dihitung dari zaman Sukarno, kumpulan perangko dan uang, usianya sama dengan Republik ini. Benda–benda itu sebagian besar adalah koleksi dari kerajaan Tegeh Kori Bali, sebagian lainnya milik Sukmawati Sukarno Putri dan sumbangan dari keraton-keraton di Jawa.

Selain dari dalam negeri, sejumlah benda di TSC pun didapatkan dari luar negeri. Beberapa yayasan dan kerajaan luar negeri juga sahabat–sahabat Bung Karno banyak yang memberikan koleksi, literatur, foto dan buku secara sukarela. “Kami pun masih mengusahakan untuk mendapat dokumentasi berupa foto atau transkrip pidato yang masih disimpan di negara–negara yang dikunjungi Bung Karno di masa kepresidenannya,” tukasnya. Untuk melakukan itu, TSC di-back up oleh Universitas Mahendradatta Bali sebagai lembaga mitra dari koleksi kesejarahan.

Dari segi sejarahnya, di TSC terdapat dua benda paling istimewa. Kedua benda itu adalah sebilah pedang samurai milik seorang kaigun (petinggi militer Jepang) yang diserahkan secara rahasia pada Sukarno, sesaat sebelum Jepang meninggalkan Indonesia. Benda lainnya adalah tongkat komando Bung Karno yang kerap dipakai pada saat pembuangan di Bangka.

Selain koleksi benda, ada pula koleksi foto yang jumlahnya hingga ribuan buah. Enong Ismail, Penanggung Jawab sekaligus Ketua Dewan Kurator TSC menyebutkan, sejauh ini koleksi foto di TSC sudah mencapai lebih dari 5.000 foto. Dari jumlah itu, yang dipamerkan hanya sekitar 300 foto saja dan yang unpublish sekitar 50 persen-nya. “Foto paling lama adalah foto saat Bung  Karno masih muda, diperkirakan diambil tahun 1916. Untuk urusan foto ini, kami bekerjasama dengan Yayasan Bung Karno (YBK) di Jakarta. Selain foto, kami juga mencetak dan mendistribusikan buku-buku terkait Bung Karno,” sebutnya.
Dari segi lokasi, TSC menempati kawasan cukup strategis, terletak di jalur utama wisata di Gianyar yakni jalur Ubud - Tirta Empul – Kintamani. Berdiri di atas kompleks terintegrasi seluas 30.000 meter persegi. Di areal seluas ini, terdapat tiga bangunan utama yakni Istana Mancawarna, Gedung Perpustakaan, dan Paviliun Raja.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di TSC, Anda akan disambut aroma dupa wangi yang menyengat serta alunan musik ala keraton. Di dalam gedung pameran sendiri terdapat sejumlah ruangan dengan tema mendetail, seperti ruang kerja Presiden TSC (ruang Nilapati), ada pula ruang rapat Pancasila, ruang audiensi, ruang teater, ruang pameran Pancasila, ruang proklamasi, ruang internasionalisme, ruang keluarga, ruang Kanjeng Ratu Pantai Selatan, dan ruang penghargaan. “Ada juga meja display untuk koleksi pusaka, cinderamata, dan barang–barang pusaka Nusantara.”
 
Dengan kelengkapan itu, tak ayal jika TSC banyak dikunjungi sejumlah tamu istimewa baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sejumlah pejabat dan pesohor, seperti, Mahfud MD, Jokowi, Dahlan Iskan, BJ Habibie dan pejabat lainnya pernah bertandang ke TSC. Bukan hanya itu, dari luar negeri seperti pangeran Kamboja Keo Puth, putri Kamboja Princess Norodom Arun Rasmy, Tushar Arun Gandhi (cucu Mahatma Gandhi), Jing Min Jun (President IESC – PBB), Penasehat Lingkungan Wakil Presiden USA Al Gore, sejumlah Kepala Negara dan Menteri Asia Afrika, Diplomat Eropa dan USA, Duta Besar Negara sahabat, juga pernah hadir di sini.

“Minat masyarakat luar Bali untuk ke museum TSC sangat besar, bahkan dari pengamatan kami, jumlah pengunjung ke museum TSC di antara museum swasta di Bali sudah cukup signifikan. Ini menunjukkan jika wisata sejarah bangsa sangat besar potensinya. Para Raja-Sultan Se-Nusantara juga sering hadir di Istana Mancawarna Tampaksiring ini. Hampir tiap minggu kami mengadakan acara,” imbuh Dewi WS.
Selain untuk berwisata sejarah, TSC pun rutin menggelar sejumlah agenda besar yang bertaraf internasional, yakni The Sukarno Prizes. Agenda ini merupakan ajang penghargaan untuk tokoh dunia yang terinspirasi dari Sukarno. Tokoh dunia yang telah mendapatkan penghargaan ini di antaranya King Norodom Sihanouk, Mahatma Gandhi, Aung Sang Suu Kyi, Dalai Lama, Michael Jackson dan Nelson Mandela.

Kegiatan lainnya, ada Bulan Bung Karno setiap Juni – Juli, kegiatan hari kelahiran Museum dan peringatan hari Kerajaan Majapahit setiap 10 – 11 November dan juga peringatan hari – hari besar Bung Karno. Selain itu, setiap saat TSC juga mengadakan acara jamuan makan (royal dinner) untuk para tamu agung yang berkunjung.

Ke depan, sebagai sebuah lembaga dunia dan mencitrakan wajah Indonesia, selain terus menambah jumlah koleksi benda untuk museum, TSC mengharapkan agar semakin banyak generasi muda yang datang ke Bali untuk belajar sejarah tentang Indonesia.

Karena bagaimanapun, bicara soal Indonesia tidak akan pernah lepas dari Sukarno. Dan membincang Sukarno, maka tak akan lepas dari Pulau Dewata, karena ibunda Sukarno, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, adalah wanita Hindu Bali.n

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

     
    

Popular

     

Photo Gallery

   
 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250