Search:
Email:     Password:        
 





All About Tollway

By Andi Nursaipul (Administrator) - 01 March 2013 | telah dibaca 2134 kali

All About Tollway
Naskah     : Andi Nursaiful/berbagai sumber
Foto         : Istimewa/Dok.MO


Hampir semua negara di dunia memiliki ruas jalan bebas hambatan. Baik itu berupa freeway atau expressway yang tidak memerlukan bayaran, maupun tollway atau tollroad yang memungut bayaran untuk menggunakannya. Tahukah Anda bahwa sejarah jalan tol awalnya dari Yunani Kuno? Lalu pernahkah Anda meggunakan jalan tol yang menembus sebuah gedung pencakar langit?









Sejarah jalan tol, atau secara universal dianggap sebagai jalan bebas hambatan dengan tarif tertentu, berawal jauh ke masa Yunani Kuno. Para penambang dibebankan biaya Charon ketika membawa rekan atau keluarga mati di sungai Acheron dan Styx menuju Hades. Jika jiwa membayar tol, Charon boleh diangkut ke seberang sungai. Jika tidak, maka jiwa Charon hanya akan mengembara di antara kematian dan kehidupan untuk selamanya.

Di masa Eropa modern, banyak jalan-jalan pada awalnya dibangun sebagai tollway, demi menutup biaya konstruksi. Di Inggris abad ke-14, misalnya, beberapa jalan yang paling banyak digunakan dibangun dan diperbaiki menggunakan dana yang diperoleh dari pungutan pengguna jalan. Contohnya, Jalan Thomas Telford Holyhead (sekarang bernama A5 road) yang sangat panjang, dibangun pada awal abad ke-19, dengan begitu banyak gerbang tol di sepanjang ruasnya.

Pada abad ke-19, jalan papan kerap juga dioperasikan sebagai jalan tol (jalan berbayar) untuk sepeda motor. Salah satu jalan motor pertama AS, Long Island Motor Parkway (yang dibuka pada tanggal 10 Oktober 1908) dibangun oleh William Kissam Vanderbilt II. Jalan itu ditutup pada 1938 ketika diambil alih oleh negara bagian New York sebagai pengganti pajak kembali.
 
Pada abad ke-20, tol jalan telah diperkenalkan di Eropa untuk membiayai pembangunan jaringan jalan tol dan infrastruktur jalan tertentu, seperti jembatan dan terowongan. Italia juga telah menjadi negara Eropa pertama yang menerapkan penggunaan tol jalan bebas hambatan pada bagian jalan raya km 50 dekat Milan pada 1924.

Hal ini diikuti oleh Yunani, yang membangun jaringan jalan raya berbayar di sekitar dan antara kota-kotanya pada tahun 1927. Pada era 1950-1960-an, Perancis, Spanyol, dan Portugal mulai membangun jalan raya sebagian besar dengan bantuan konsesi, sehingga memungkinkan perkembangan pesat infrastruktur ini tanpa utang besar bagi negara. Sejak itu, jalan tol telah diperkenalkan di kebanyakan negara anggota Uni Eropa.

Di Tanah Air, jalan bebas hambatan yang pertama adalah Jalan Tol Jagorawi. Dibangun pada 1973, menghubungkan Jakarta - Bogor – Ciawi, jalan ini memakan biaya Rp350 juta per kilometer. Jalan tol sepanjang lebih kurang 60 km ini diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Maret 1978, di mana ketika itu  baru selesai ruas Jakarta - Citeureup dengan karyawan 200 orang.

Jalan tol Jagorawi merupakan jalan tol pertama yang didanai APBN dari pinjaman luar negeri. Ketika jalan tersebut selesai dibangun pada 1978, pemerintah memikirkan agar biaya pengoperasian dan pemeliharaan ruas jalan tersebut dapat dilakukan mandiri tanpa membebani anggaran negara. Untuk itu Menteri Pekerjaan Umum ketika itu, Ir. Sutami, mengusulkan kepada Presiden Soeharto agar ruas jalan Jakarta - Bogor tersebut di jadikan jalan tol.

Dua minggu sebelum jalan tol Jagorawi rampung, persisnya pada 25 Februari 1978, terbit PP No. 4 tahun 1978 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia untuk pendirian Persero yang mengurusi dan mengelola infrastruktur jalan raya. Dari situlah kemudian lahir badan usaha persero PT Jasa Marga (Persero) pada 1 Maret 1978.

Teknologi Sosrobahu ala Indonesia
Di dunia pembangunan jalan bebas hambatan, Indonesia cukup dikenal di dunia berkat penemuan penting teknologi Sosrobahu dalam pembuatan jalan tol. Pada 1980-an, Jakarta yang memang sudah mengalami kendala kemacetan lalu lintas, banyak membangun jalan layang sebagai salah satu solusi meningkatkan infrastruktur lalu-lintas. Sebagai kontraktor saat itu, PT. Hutama Karya mendapatkan order membangun jalan raya di atas jalan by pass A. Yani di mana pembangunannya harus memastikan bahwa jalan itu harus tetap berfungsi.

Dengan permasalahan tersebut, para direksi Hutama Karya berdiskusi setelah mendapatkan order membangun jalan layang antara Cawang sampai Tanjung Priok sekitar tahun 1987. Persoalan rumit diurai, yang diperlukan untuk menyangga badan jalan itu adalah deretan tiang beton, satu-sama lain berjarak 30 meter, di atasnya membentang tiang beton selebar 22 meter. Batang vertikalnya (pier shaft) berbentuk segi enam bergaris tengah 4 meter, berdiri di jalur hijau.

Hal ini tidak sulit. Yang merepotkon adalah mengecor lengannya (pier head). Jika dengan cara konvensional, yang dilakukan adalah memasang besi penyangga (bekesting) di bawah bentangan lengan itu, tetapi bekesting itu akan menyumbat jalan raya di bawahnya. Cara lain adalah dengan bekesting gantung, namun membutuhkan biaya lebih mahal.

Di tengah masalah itu, Ir. Tjokorda Raka Sukawati, mengajukan gagasan dengan membangun tiangnya dulu dan kemudian mengecor lengannya dalam posisi sejajar dengan jalur hijau. Baru  setelah itu diputar membentuk bahu. Hanya saja, kendalanya adalah bagaimana cara memutarnya karena lengan itu nantinya seberat 480 ton.

Secara kebetulan, ketika Tjokorda memperbaiki kendaraannya, hidung mobil Mercedes 1974-nya diangkat dengan dongkrak sehingga dua roda belakang bertumpu di lantai yang licin karena ceceran tumpahan oli secara tidak sengaja. Begitu mobil itu tersentuh, badan mobil berputar dengan sumbu batang dongkrak.

Satu hal yang ia catat, dalam ilmu fisika dengan meniadakan gaya geseknya, benda seberat apa pun akan mudah digeser. Kejadian tadi memberikan inspirasi bahwa pompa hidrolik bisa dipakai untuk mengangkat benda berat, dan bila bertumpu pada permukaan yang licin, benda tersebut mudah digeser. Bayangan Tjokorda adalah menggeser lengan beton seberat 480 ton itu.

Singkat cerita, bayangan itu mampu ia wujudkan dalam pembangunan Jalan Tol Cawang-Priok. Pada pemasangan ke-85, awal November 1989, Presiden Soeharto ikut menyaksikan dan memberi nama teknologi itu Sosrobahu, diambil dari nama tokoh cerita sisipan Mahabharata.

Temuan Tjokorda kemudian digunakan oleh insinyur AS dalam membangun jembatan di Seattle.
Hak paten yang diterima adalah dari pemerintah Jepang, Malaysia, Filipina. Dari Indonesia, Dirjen Hak Cipta Paten dan Merek mengeluarkan patennya pada tahun 1995, sedangkan Jepang memberinya pada tahun 1992.

Teknologi Sosrobahu sudah diekspor ke Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Salah satu jalan layang terpanjang di Metro Manila, yakni ruas Vilamore-Bicutan adalah buah karya teknik ciptaan Tjokorda. Di Filipina teknologi Sosrobahu diterapkan untuk 298 tiang jalan, sedangkan di Kuala Lumpur sebanyak 135.

Teknologi Sosrobahu lantas dikembangkan. Bila pada versi pertama memakai angker (jangkar) baja yang disusupkan ke beton, versi keduanya hanya memasang kupingan yang berlubang di tengah. Lebih sederhana dan bahkan hanya memerlukan waktu kurang lebih 45 menit dibandingkan dengan yang pertama membutuhkan waktu dua hari. Dalam hitungan eksak, konstruksi Sosrobahu akan bertahan hingga 1 abad.

Dari Jepang, ada juga penemuan menarik meski pengaruhnya tidak sehebat penemuan Ir. Tjokorda. Sebuah jalan tol dalam kota di Osaka, Jepang, dibuat menembus gedung berlantai 16 yang dinamakan Gate Tower Building.

Sebanyak dua lantai dari gedung itu, lantai 5-7, ditembusi oleh jalan tol sepanjang 293,3 km, bagian dari Hanshin Expressway yang menghubungkan Osaka, Kobe dan Kyoto. Penyelenggara jalan tol tersebut adalah penyewa tetap pada lantai 5-7 di gedung ini.

Gate Tower BuildingKisahnya, pada 1983, pembangunan gedung baru di area tersebut dihentikan oleh pemerintah setempat. Alasannya, sudah lebih dulu ada rencana pembangunan jalan tol. Investor gedung tak mau menyerah, dan menolak meruntuhkan gedungnya.

Setelah bernegosiasi dengan penyelenggara jalan tol selama lima tahun, muncullah solusi tadi. Pemilik gedung menggunakan tiang penyangga ganda untuk melindungigedung ini dari getaran, dan juga struktur melingkar di sekeliling bagian yang digunakan untuk ditembus jalan tol.

Kembali ke Tanah Air, tepatnya di Pulau Dewata, jika tak ada aral melintang akan hadir jalan tol pertama yang melintasi laut. Pembangunan proyek tol atas laut Tanjung Benoa-Ngurah Rai-Nusa Dua, Bali sepanjang 11,4 Km ini akan segera rampung pada Juni 2013, dan memudahkan pengendara dari Nusa Dua ke Bandara maupun ke Benoa atau sebaliknya. Proyek ini dibangun sebagai persiapan Bali sebagai tuan rumah KTT APEC 2013.

Tidak semua jalan bebas hambatan dipungut bayaran di Indonesia. Di Serambi Makkah, Nagroe Aceh Darussala (NAD), sejak 2011 masyarakat sudah bisa menikmati jalan lebar nan mulus yang membentang dari Medan-Banda Aceh sepanjang hampir 560 Km.

Jalan yang melintasi Gunung Seulawah pada ketinggian 1.726 dpl. Kemiringan jalannya  memiliki sudut berstandar internasional pada setiap tikungannya. Dari ruas sepanjang 560 Km, itu, sepanjang 400 Km berada dalam wilayah NAD, dan lebih bagus dibanding ruas 140 Km milik wilayah Pemerintah Daerah Sumut.

Pembangunnya adalah beberapa kontraktor, seperti, PT. Cipta Karya, bekerjasama dengan sejumlah kontraktor dari Korea, Jerman, dan Belanda. Beberapa developer pembangun jalan itu juga merupakan implementasi dari pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami oleh BRR Aceh, melalui dana bantuan internasional.

Jika kelak terwujud, ada satu lagi proyek besar dalam bidang infrastruktur jalan raya di Indonesia, yakni Jalan Tol Trans Jawa. Ruas tol ini kelak akan menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Panjangnya sekitar 650 Km, menghubungkan kota-kota besar di Pulau Jawa. Sebagian ruas sudah selesai seperti Tol Kanci-Pejagan di Cirebon, sementara ruas lainnya sedang dibangun dan dibebaskan lahannya. Selain itu, kelak akan ada Jalan  Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) di Kedunghalang, Bogor.  Jalan tol Jabodetabek ini mencakup jalan tol di lingkungan Jakarta dan sekitarnya.


Jalan Tol Terpanjang di Dunia

•    Trans Canada Highway, ibangun sepanjang 4860 mil, mulai dari Vancouver, British Columbia, dan menyebrangi 10 provinsi, 5 zona waktu, dan berakhir di St. John's, Newfoundland. Jalan ini dibangun pada tahun 1962 dan selesai pada tahun 1970.

•    Interstate 80 Highway, merupakan jalan tol kedua terpanjang di AS, setelah Interstate Highway 90. Jalan ini menghubungkan kota San Fransisco, California, menuju Teaneck, New Jersey, sepanjang 4666 Km.

•    Interstate 90 Highway, merupakan jalan tol antarnegara terpanjang di AS, Membentang sepanjang 4987 km, melintasi wilayah timur Butte, dan Montana.

•    Route Six Highway, dibangun pertama kali pada 1925, lalu diperpanjang mulai dari Massachusets menuju Brewster, New York, dan diganti namanya menjadi Jalan Tol Rossevelt. Jalan ini memiliki panjang sekitar 5158 km.

•    Trans Siberian Highway, merupakan jalan tol yang menghubungkan Rusia dari Laut Baltik, Laut Atlantis, menuju ke Laut Jepang di Lautan Pasifik. Panjang jalan ini mencapai 11.000 km.

•    Australia's Highway, memperoleh namanya karena jalan tol ini merupakan jalan tol terpanjang di Australia. Memiliki pangang 14.500 km, jalan ini mengelilingi seluruh benua Australia. Setiap harinya, lebih dari 1 juta orang yang hilir mudik melewati jalan ini.

•    Pan-American Highway, sepanjang 48.000 km, merupakan jalan tol yang terletak di Amerika Utara dan merupakan salah satu jalan menuju beberapa negara bagian utama di Amerika.

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250