Search:
Email:     Password:        
 





Hartawan Setjodiningrat: Sang Restorer Mobil-mobil Kuno

By Giatri () - 30 September 2013 | telah dibaca 5582 kali

Naskah: Giattri Foto: Febri Pramono

“Jangan sebut saya kolektor, tapi restorer mobil-mobil kuno!” Hal itulah yang ditekankan oleh Presiden Direktur PT. Dasa Windu Agung, Hartawan Setjodiningrat kepada Men’s Obsession. Apa yang diutarakannya memang benar adanya, dari ratusan mobil kuno miliknya yang tidak bisa berjalan, sekitar 80-an disulapnya menjadi berfungsi kembali, tak terkecuali 4 mobil bekas Presiden pertama RI, Soekarno.

Ketertarikannya akan mobil-mobil kuno berawal saat pria yang kerap disapa Hawke, itu, bekerja di pabrik Nissan di Australia. Di negeri Kangguru tersebut, dia sering berkumpul dengan teman-teman “bule”-nya, para penggila mobil hot rod. Dari situlah dia mulai menggandrungi hobi ini hingga memboyongnya ke Tanah Air. “Di luar negeri mobil kuno sangat diminati dan dicari, kenapa hal ini tidak saya lakukan di negara saya sendiri,” pikir jebolan Institute Technology Sydney saat itu.

Sepulangnya dari Australia, Hawke langsung membangun tekad untuk begerilya mencari mobil kuno. Mobil kuno pertama yang dibeli adalah Austin Seven keluaran 1937. Mobil itu milik lurah di kaki Gunung Sumbing, Wonosobo, Jawa Tengah. Mobil tersebut dilepas seharga 1,7 juta rupiah pada 1980. "Kondisinya saat itu memprihatinkan. Bodinya terpisah dari mesin dan kaki-kakinya. Oleh pemiliknya, mobil tersebut dipakai mengangkat genset kecil," jelas Hawke.

Perburuan pun berlanjut hingga ke pelosok-pelosok daerah. Berbekal pengetahuan yang ia dapat dari sebuah buku, bahwa mobil kuno biasanya terdapat di daerah bekas ordeneming (perkebunan), pabrik gula, dan teh pada masa penjajahan Belanda. “Kalau cari di Wonogiri, misalnya, tidak akan dapat karena tandus,” terang Hawke.

Namun, dalam awal perburuannya karena minim pengetahuan, dia mengaku sering kecele. Contohnya, dia menyambangi suatu daerah karena mendengar ada yang memiliki mobil jari-jari.
“Pas saya lihat ternyata dokar. Lalu, saya kan suka mobil yang atapnya terbuka seperti Chevrolet. Katanya ada juga pakai terpal, ternyata Chevrolet Luv (pick up), tapi semua kesulitan yang saya hadapi saat proses mencari itu, saya terima dengan lapang hati karena itu merupakan proses pembelajaran,” tandas Hawke.

Untuk mengurangi kekecewaan itu, Hawke lalu mempekerjakan 5 makelar yang "dipersenjatai" handy talky (HT), kamera poket, dan sejumlah uang. Mereka dipencar ke beberapa daerah yang diyakininya menyimpan banyak mobil peninggalan Belanda yang sudah tidak terpakai, seperti, di kota Medan, Jogja, Solo, Kediri, Cirebon, dan Madiun.

Benar dugaan dia. Dalam sekejap, para pekerja Hawke mampu mengumpulkan banyak unit mobil kuno. Itu terjadi pada 1990. Namun hal itu hanya belangsung selama 5 tahun karena para pekerja Hawke tersebut menghilang. “Tapi at least saya sudah dapat beberapa dari situ dan saya sendiri juga sudah 80 persen keliling Indonesia, yang belum saya datangi hanya Irian dan Maluku karena disana gak ada mobil,” ujar Hawke.

Dia juga pernah mendapat pengalaman mengesankan ketika melobi kantor Setneg (sekretariat negara) agar dipercaya merawat mobil peninggalan Presiden Soekarno. "Saat itu pada 1987, saya menjabat Ketua Umum PPMKI (Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia) DKI Jakarta. Solihin GP yang kala itu sebagai Ketua Umum, meminta saya untuk mencari cara agar 23 mobil bekas Bung Karno yang dilelang oleh Setneg tidak jatuh ke orang asing. Akhirnya, saya dengan tim mengadakan rapat kecil dan sepakat untuk menebus mobil-mobil itu,” kisah Hawke.

Setelah mobil eks RI-1 tersebut dihibahkan kepada PPMKI, jajaran pengurus menyeleksi siapa saja kah anggota yang berpotensi me-restore, 4 di antaranya jatuh ke tangan Hawke, yakni Chrysler Imperial 59 Limousine, Chrysler Winsor 47, Zyl 1957, dan Cadillac 51.

“Nah, sisanya itu tersebar di anggota yang lain dan sampai sekarang kita memonitor, mobil itu tidak boleh dijualbelikan kepada non anggota apalagi ke luar negeri. Hingga kini, 20 sudah jalan, yang 3 masih dalam proses restorasi,” jelas Hawke.

Mobil formula lansiran 1983 juga termasuk yang ia restorasi, yang ia dapat dua tahun lalu. Saat itu kondisi mobil bekas William Soeryadjaya, pendiri PT Astra Internasional tersebut, keadaannya komplet hanya saja mesinnya masuk air karena diletakkan begitu saja di bawah pohon hingga kehujanan. “Mobil ini kemudian saya restore untuk historical,” sebut pria kelahiran Maret 1955 itu.

Mobil Buick 39 yang teronggok di Gedung Joeang 45 juga berhasil dihidupkan kembali oleh Hawke. “Biasanya setiap tanggal 16 Agustus saat zamannya Pak Fauzi Bowo, saya yang bawa dari Gedung Joeang-Cikini-gedung pola,” kenangnya.

Sampai saat ini, mobil tertua yang dia miliki adalah Lorent Dietric (1908) yang merupakan salah satu mobil kebanggaannya, bahkan ia menamai anak bungsunya dengan nama yang senada.
“Lorent, dia yang setiap hari mengurusi mobil ini, menuruni jiwa saya. Cucu saya juga setiap hari saya gendong-gendong ke sini, melihat saya membongkar-pasang, agar memiliki jiwa appreciate bukan demanding,” tutur bapak tiga anak itu.

Sedangkan yang termuda adalah Mercy 25SE, 2 pintu (1962). Mobil kuno koleksinya itu berasal dari beberapa negara, seperti, Amerika (Chevrolet dan Ford), Jerman (Mercy dan BMW), Inggris (Jaguar), Prancis (Lorent Dietric). Untuk mobil-mobil kesayangan itu, Hawke menyediakan areal khusus di belakang rumahnya di Puri Permata, Cipete, Jaksel yang ia sulap menjadi Gallery yang dinamai Hawke Auto Gallery. Puluhan mobil kuno lainnya juga bersemayam di gudang miliknya di Bekasi.

Untuk merestorasi mobil, ujar Hawke ada triknya, yakni harus memilih barang yang bagus, tapi tak perlu mahal. “Misalnya, kalau kita mau chrome mobil di bengkel bisa menelan biaya Rp3-4 juta. Kalau mau chrome itu kan harus memakai kuningan atau tembaga, kenapa kita tidak bikin saja chrome tersebut? Terus cat mobil kan ada macam-macam, ada yang sekilo dibanderol Rp70 ribu juga, ada juga yang Rp500 ribu. Nah, kita pilih yang harganya Rp500 ribu karena bisa tahan higga puluhan tahun, ketimbang beli yang Rp70 ribu, tapi setahun rusak,” jelas Hawke.

Hawke juga menggarisbawahi dalam merestorasi mobil harus memiliki passion. “Tidak boleh bernafsu, kalau mau restorasi sudah ada standar harganya, jadi jangan memulai restorasi kalau budget-nya belum mencukupi apalagi sampai mempergunakan uang dapur, karena itu hak keluarga,” tegas Hawke.

Kecintaan Hawke akan mobil kuno tidak hanya ditunjukkan dengan mengoleksi maupun merestorasinya saja, melainkan juga terjun langsung dalam melestarikan dan memperkenalkan mobil kuno kepada masyarakat luas. “Saya menghimbau kepada masyarakat luas agar berperan serta dalam pelestarian mobil kuno karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Itulah yang menjadi kebanggaan saya,” imbuh Penasehat PPMKI itu. Hawke juga berharap suatu saat dirinya dapat menciptakan mobil dan bisa menjualnya.


Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250