Search:
Email:     Password:        
 





Koleksi Tosan Aji Ryaas Rasyid

By Andi Nursaiful (Administrator) - 18 October 2013 | telah dibaca 3438 kali

Naskah: Gyatri Fachbrilliant    Foto: Sutanto

Mantan Menpan dan Anggota Wantim presiden, Ryaas Rasyid, sejak lama mengoleksi ratusan jenis keris dan tosan aji asal Jawa berusia ratusan tahun. Banyak cerita mistis dan kisah menarik yang dialaminya bersama benda-benda pusaka kuno koleksinya itu.

Menurutnya, keris Jawa kuno dibuat dengan sungguh-sungguh oleh seorang Mpu. Memerlukan ritual khusus dan proses yang panjang.

"Oleh karenanya meskipun saya bukan orang Jawa, saya merasa terpanggil untuk menyerap berbagai budaya Jawa yang terkandung di dalam benda yang telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia tersebut dan hal itu saya buktikan dengan memeliharanya,” tandas Ryaas.

Ryaas, mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), dan Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Presiden di Bidang Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi, sudah sejak lama memahami seluk beluk senjata khas Jawa, sekalipun ia adalah putra Sulawesi Selatan. Tak hanya  memahami, Ryaas juga mengoleksi ratusan jenis keris dan jenis tosan aji lainnya seperti tombak dan lainnya yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Keris yang bersemayam di kediamannya yang asri di bilangan Jalan Margasatwa, Jakarta Selatan, sudah menyentuh angka ratusan dan dari koleksi miliknya pulalah ia mengalami banyak kisah menarik. Cikal bakal ketertarikannya terhadap benda tajam tersebut adalah saat berkerja di Jakarta sebagai asisten dosen di Institut Ilmu Pemerintahan pada 1978. 

“Ada salah satu dosen ahli sejarah yang memberikan perhatian khusus kepada benda-benda pusaka, salah satunya adalah keris-keris Jawa yang bernama Sumarsahid Moertono. Di setiap kami bertemu, ia sering bercerita mengenai keunikan keris. Namun tatkala itu, yang saya tahu hanyalah badik,” ujar Ryaas.

Suatu waktu tahun 1981, Sumarsahid menyambangi kediaman Ryaas dan menyerahkan sepucuk keris kepada pria kelahiran Gowa, 17 Desember 1949 itu. “Ini cocok buat kamu karena kamu masih muda, itu yang beliau katakan ke saya,” kenang Ryaas.

Namun keris pemberian tersebut hanya teronggok begitu saja di rumah Ryaas, bahkan saat ia menempuh pendidikan di Universitas Hawaii, Amerika Serikat, pada 1985, sepucuk benda tajam tersebut pun tidak dibawanya. ”1994, saya kembali setelah dapat gelar doktor jadi hampir 10 tahun saya tinggal keris itu,” aku Ryaas.

Sepulangnya ke Tanah Air, ia bertemu salah seorang Dekan Fisipol UGM, “Ia bilang ke saya karena saya tinggal di Jawa, ya harus mengerti budaya Jawa, bahkan ia merujukkan bukunya Sumarsahid berjudul State and Statecraft in Old Java: A Study of Later Mataram Period 16th to 19th Century dan ia juga menegaskan bahwa saya harus punya keris.”

Ryaas lantas dipertemukan dengan seorang ahli keris yang kerap dipanggilnya Pak Duku. “Oleh Pak Duku saya diberi keris bernama Nogo Sosro,” ungkap Ryaas.

Pria yang pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII)m,  itu, juga meminta Pak Duku untuk menguji keris pemberian Sumarsahid. Hasil “ujian” tersebut membuatnya terkejut.

Pasalnya, keris itu tergolong bagus dan bertuah. Terbukti, kala diletakkan di atas kaca, keris itu bisa berdiri. “Ini namanya Sabuk Inten kata Pak Duku, dan sejak itu secara naluriah, saya jadi tertarik dengan keris-keris Jawa,” tukas Ryaas. ]


Ryaas pun memutuskan untuk mulai mengumpulkan keris. Anehnya, ia tak perlu berpeluh keringat karena keris itu datang dengan sendirinya. ”Ya, ada saja orang yang mengantarkan ke saya minta untuk dijaga atau apalah. Pak Duku juga setiap ada keris bagus selalu memberikan ke saya.

Akhirnya tanpa disadari, saya punya banyak keris. Saya pun belajar tentang keris kepada Pak Duku seperti ini keris apa, jenis-jenis besinya, bagaimana cara membaca pamor dan lup, serta simbol-simbol yang terkandung," tuturnya.

Ryaas, menjelaskan, tidak semua keris itu bagus. Ada yang sekadar keris saja dan tidak perlu dikoleksi. Ada sifat keris yang bagus, serius pembuatannya, dan tua, itu layak untuk dikoleksi. Ada keris yang bila disimpan bisa membahayakan pemiliknya, seperti membawa sial atau sakit.

"Makanya setiap kali saya mendapatkan keris, saya minta beliau (Pak Duku) ke Jakarta. Apapun yang ia katakan saya serap,” terang Ryaas.

Soal uang lelah bagi orang yang mengantarkannya, tak jarang ada yang menolak. Ada Cerita yang tak terlupakan bagi Ryaas yakni ketika ia mendatangi rumah salah seorang sahabatnya, Walikota Surabaya, Sunarto Sumoprawiro, yang kerap disapa Cak Narto. 

Cak Narto menawari mantan Rektor IIP (Institut Ilmu Pemerintahan) Jakarta itu untuk memiliki salah satu mobil yang terparkir di rumahnya. Namun, suami dari Andi Farida Ryaas tersebut menolak. ”Lalu apa yang harus saya kasih ke kamu?” kata Cak Narto.

Akhirnya, Cak Narto pun menawari Ryaas sebuah keris. Ia dibawa ke kamarnya yang terdapat lemari penuh keris. Ryaas diminta memilih sendiri, dan langsung menarik keris Madura bergambar sapi yang di atasnya ada ukiran singa. Keris itu lurus namun di ujungnya ada lupnya. Cak Narto kontan kaget.

"Pak Ryaas ngerti keris ya?" ujarnya. Ternyata keris tersebut adalah salah satu yang terbaik milik Cak Narto, dan harus ia ikhlaskan untuk dibawa pulang oleh Ryaas.

Selain ketiga keris yang disebutkan di atas, Ryaas juga memiliki keris unik lainnya, seperti keris dengan tiga lup, yang konon katanya berpotensi untuk memanggil keris lain. Lalu keris yang pernah dikoleksi oleh beberapa orang besar yang memiliki jumlah lup terbanyak, lekuknya berjumlah 31 dan terdapat pamor emas bergambar naga tapa (naga yang sedang diam).

“Ini salah satu keris saya yang tua, konon berasal dari zaman sebelum kerajaan Majapahit. Saya juga menyimpan keris milik Raja Goa yang bungkusnya terbuat dari emas,” ungkap Ryaas.

Ryaas juga memiliki keris sendiri yang dibuatkan khusus oleh seorang Mpu untuknya. “Keris ini persis seperti yang dipakai oleh anaknya Arjuna bernama Abimanyu,” ujar mantan Dirjen PUOD (Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah) tersebut.

Koleksi lainnya adalah “buntel mayit” atau bungkus mayat yang disebut-sebut memiliki kekuatan magis. Konon, bila pemegang keris jenis ini tak kuat, ia bisa sakit dan bahkan meninggal. Tapi bagi Ryaas, kegemarannya mengoleksi keris bukan lantaran ada atau tidaknya kekuatan mistik di dalam keris itu. Melainkan karena bentuknya yang bagus, dan juga filosofi keris itu sendiri sebagai salah satu budaya luhur bangsa.

Soal perawatan terhadap keris-keris koleksinya, Ryaas mempercayakan kepada ahli keris yang setiap enam bulan sekali datang ke rumahnya.

“Kalau dulu saat keris saya belum banyak, saya membersihkannya sendiri, yakni dengan mencuci keris dengan air kelapa yang diletakkan dalam sebuah bambu panjang selama berhari-hari sampai karatnya hilang. 

Setelah itu dibilas, dikeringkan, lalu dibersihkan lagi dengan perasaan air jeruk nipis dan dibalurkan minyak wangi khusus, seperti, Misik Putih atau Melati Keraton, agar keris tetap harum dan tahan karat,” papar Ryaas.

Meskipun ia sangat mencintai keris-kerisnya, ia mengaku akan menghibahkan salah satu situs warisan dunia tersebut ke yayasan atau badan sosial, karena keluarganya tidak ada yang memiliki passion yang sama terhadap keris. Selain itu, juga karena faktor kesibukan pria yang dikenal sebagai pendiri Partai Persatuan Dermokrasi Kebangsaan (PPDK) bersama Andi Mallarangeng dan ikut pada pemilu 2004.

Ryaas juga berharap agar semakin banyak orang Indonesia yang mengapresiasi keris, khususnya keris Jawa kuno. Pasalnya, sulit untuk menemukannya keris yang dibuat oleh orang-orang dulu. “Mereka membuatnya tidak berorientasi ekonomi sehingga tidak diperjualbelikan, melainkan diwariskan,” pungkas Ryaas.

* Artikel ini dimuat di Majalah Men's Obsession Edisi 117, Oktober 2013

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

         

Popular

   

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250