Search:
Email:     Password:        
 





The Best Young Leader

By Benny Kumbang (Editor) - 28 October 2013 | telah dibaca 2595 kali

Ronald Tauviek Andi Kasim

Sosok Muda di Belakang Sukses Pefindo

Naskah: Sahrudi, Foto: Fikar Azmy

Prinsip“The right man in the right place” sangat tepat disematkan pada Ronald Tauviek Andi Kasim, CFA. Betapa tidak, sejak duduk sebagi Presiden Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), sejak itu pula peraih Bachelor in Finance dan Master in Business Administration dari Creighton University, Omaha, Amerika Serikat, ini tak hanya bisa meningkatkan performa perusahaan tapi juga melakukan diversifikasi bisnis.

Tiga tahun memimpin PEFINDO, Ronald telah membuktikan bahwa “tangan dingin” nya mampu mengantarkan perusahaan ini menuju prestasi yang terus meningkat. Betapa tidak, setahun setelah menjadi pucuk pimpinan PEFINDO, tepatnya tahun 2010, pemegang Chartered Financial Analyst dan sertifikat Series 27 yang dikeluarkan National Association of Securities Dealer ini sudah mampu mengangkat kinerja seluruh lini bisnis PEFINDO sehingga memenuhi target yang memuaskan dan melampaui pencapaian tahun sebelumnya. Di tahun 2012, pria kelahiran Jayapura 23 Maret 1967 ini mengantarkan PEFINDO menguasai 91 persen pasar dengan merating penerbitan surat utang senilai 66,748 triliun rupiah dari total penerbitan senilai 72,95 triliun rupiah. Kemudian untuk tahun 2013 ini, dengan total target emisi obligasi korporasi yang mencapai 80 triliun rupiah, PEFINDO menargetkan bisa terus menguasai 90 persen pasar pemeringkatan. Kini, PEFINDO juga telah menerima mandat pemeringkatan obligasi dari 47 perusahaan dengan total nilai emisi Rp 40,9 triliun per Agustus 2013.

Ronald, masih ingat betul, sebelum duduk sebagai pucuk pimpinan PEFINDO ia di-wanti-wanti oleh para stakeholder PEFINDO untuk tidak hanya membesarkan PEFINDO sebagai lembaga pemeringkatan tapi juga memikirkan diversifikasi bisnis ke usaha lainnya.  Karena itulah, ketika pemerintah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 15/1/PBI/2013 tentang lembaga pengelola informasi perkreditan dimana BI membolehkan lembaga biro kredit dikelola lokal maupun asing, Ronald tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Naluri bisnisnya mengatakan jika PBI yang berlaku sejak 18 Februari 2013 adalah ‘pintu masuk’ bagi PEFINDO untuk segera melakukan diversifikasi usaha dengan mendirikan biro kredit sebagai anak usaha PEFINDO.

Biro kredit yang digagasnya di PEFINDO diharapkan akan menjadi lembaga partakelir yang pertama di Indonesia yang menghimpun dan mengelola informasi perkreditan seluruh masyarakat. Tidak hanya individual, tapi juga perusahaan, baik perusahaan besar, maupun usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Di biro kredit inilah data kredit profil seluruh masyarakat Indonesia, lembaga, maupun perusahaan baik kecil atau besar akan terdeteksi sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga pemberi pinjaman atau kredit. “Misalnya ada yang mau mengajukan kredit KPR di satu bank. Nah Bank nya nanti akan mengakses kredit profil si pemohon kredit itu dulu dibiro kredit, sebagai filter utama. Di biro kredit ini nanti akan kelihatan apakah si pemohon kredit itu selama 24 bulan terakhir itu punya tanggungan hutang tidak? Kalau dia punya kartu kredit, apakah tepat waktu bayar cicilannya? Kalau dia mempunyai kredit mobil lewat perusahaan pembiayaan, apakah cicilan mobilnya lancar? Begitu juga apakah dia patuh dalam membayar tagihan telepon, listrik, dan  air? Semuanya jadi terdeteksi,” terangnya.

Jika yang bersangkutan selama 2 tahun terakhir memiliki rekam jejak kredit yang bagus seperti misalnya tidak pernah terlambat dalam membayar cicilan hutang, jumlah hutangnya tidak begitu besar dibandingkan pendapatan, maka si pemohon itu akan dapat score tinggi. “Sehingga mestinya kalau diberikan kredit oleh pihak perbankan maka dia layak untuk mendapatkan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan nasabah lain yang mempunyai score lebih rendah. Karena score yang tinggi menunjukkan profil kreditnya beresiko rendah,” paparnya lagi.

Untukitu biro kredit akan menjalin hubungan dengan pihak lain seperti lembaga-lembaga yang terkait dengan masalah keuangan maupun instansi lainnya semisal perusahaan pembiayaan (multi finance), Telkom, PLN, dan PDAM. Intinya agar biro kredit dapat memiliki data yang lengkap dan akurat dari seluruh anggota masyarakat, pengusaha dari yang besar hingga level UMKM. Sehingga lalu lintas pemberian kredit kepada masyarakat dapat terarah dan terukur.

Biro kredit ini akan sangat mendukung industri jasa keuangan, khususnya perbankan dan perusahaan pembiayaan, di tanah air karena selama ini bank hanya melakukan BI checking yang sumber datanya terbatas dari kalangan perbankan saja. “Biro Kredit Swasta itu diharapkan tidak hanya mendapatkan dan mengelola data perkreditan perbankan, yang akan didapatkan dari Bank Indonesia, tetapi juga data-data kewajiban lainnya seperti dari perusahaan pembiayaan, telekomunikasi, dan PLN” jelas Ronald.Dengan semakin lengkapnya data masyarakat dan perusahaan tentang pembayaran kewajiban-kewajiban keuangan mereka, perbankan dan perusahaan pembiayaan diharapkan akan benar-benar menerapkan manajemen berbasis risiko dalam pemberian fasilitas kredit dan pembiayaan. 

Sehingga keberadaan biro kredit akan mempunyai peran yang penting dalam mendukung program pemerintah untuk menekan suku bunga pinjaman atau kredit, karena seharusnya suku bunga kredit itu mempunyai hubungan yang kuat dengan risiko.

Tentu, masih banyak langkah lain yang dilakukan Ronald dalam masa kepemimpinannya di kurun waktu tiga tahun tersebut yang mungkin terlalu panjang untuk dipaparkan. Tapi yang pasti, selain menggagas biro kredit di PEFINDO, ia juga telah melakukan terobosan dengan menerbitkan PEFINDO Beta Saham, sebuah sistem yang melakukan perhitungan beta saham suatu perusahaan yang telah go public. Dengan adanya Beta Sahamini, investor bisa lebih paham dalam bertransaksi dan tidak mengandalkan rumor pasar. ”Beta Saham adalah komponen perhitungan valuasi saham dengan metode Capital Assets Pricing Model (CAPM) atau ukuran sensitivitas tingkat pengembalian (return) harga saham tertentu terhadap return pasar. Dengan metode CAPM bisa dilakukan perhitungan valuasi saham, yang ukuran sensitivitas tingkat pengembalian harga saham terhadap pengembalian pasar,” ujar ayah tiga anak yang sebelumnya berkiprah  di perbankan dan lembaga keuangan di Amerika Serikat dan Perancis itu.

Latar belakang dibuatnya PEFINDO Beta Saham, Ronald menuturkan, karena hingga saat ini belum ada satu pihak pun di Indonesia yang secara rutin serta kontinu melakukan perhitungan dan publikasi secara gratis beta saham individual atas saham-saham yang tercatat di BEI. “Sampai saat ini di Indonesia belum ada  yang melakukan perhitungan dan publikasi secara gratis atas saham-saham  yang  ada,” jelasnya.

Dengan adanya PEFINDO Beta Saham, pemodal dapat memperoleh tambahan informasi tentang arah pergerakan harga saham secara historis dibandingkan pergerakan pasar. Selain itu, semakin banyak pelaku yang dapat menghitung nilai wajar saham dengan metode yang diakui secara akademis, bisa berpotensi meningkatkan keyakinan dalam memilih saham sebagai objek transaksi.”Dalam jangka panjang kondisi ini akan membantu meningkatkan keahlian pemodal sebagai  investor  saham”, ucap Ronald.

Sementara itu adapun proses perhitungan pada PEFINDO Beta Saham seperti pada setiap akhir perdagangan BEI akan mengirimkan data closing IHSI dan IHSG, lalu PEFINDO akan melakukan perhitungan menggunakan aplikasi khusus, kemudian dipublikasikan. “Nantinya pada akhir perdagangan BEI akan mengirimkan data closing IHSI dan IHSG lalu PEFINDO akan lakukan penghitungan pada aplikasi khusus lalu dipublikasikan,” tutupnya.

Ronaldgrafi :
Nama:
Ronald Tauviek Andi Kasim. Lahir: Jayapura, 23 Maret 1967. Pendidikan: BSBA in Finance dan Master in Business Administration dari Creighton University, Omaha, Amerika Serikat. Sertifikasi: Chartered Financial Analyst dari CFA Institute, Amerika Serikat; Series 27 dari National Association of Securities Dealers (NASD) Amerika Serikat; Wakil Manajer Investasi dari BAPEPAM-LK Indonesia; Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR) Indonesia. Jabatan:Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO). Karir:Kepala Divisi Financial Institution Ratings PEFINDO (Juni 1994-September 1998), Lead Financial Analyst, First National Bank of Omaha, Amerika Serikat (Januari 1999-Mei 2001), Head of Financial Strategic Group, First National Capital Markets, Inc (Amerika Serikat), Senior Risk Management Consultant, IPS-Sendero, Scottsdale, Amerika Serikat (Maret 2004-April 2007), Senior Risk Management Consultant dan Project Manager, Fermat SA (bisnis unit dari Moody’s), Paris, Perancis (April 2007-Juli 2009), Senior Vice President PT Bank Permata, Tbk, Jakarta (Juli 2009 – Juni 2010).

Indra W. Supriadi

Idealisme Sang Bankir Muda

Naskah: Sahrudi, Foto: Sutanto/Dok. Bank Sahabat Sampoerna

Langit adalah batas: “Kami mencermati setiap peluang seraya menelaah akan seberapa jauh kami mampu melukis dan memberikan warna bagi Indonesia”


Tulisan kata-kata bijak di atas, ditorehkan Indra Wijaya Supriadi di halaman pertama company profile PT. Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna). Untaian kalimat motivasi tersebut tentu bukan sekadar “kata mutiara” tapi lebih merupakan gambaran dari sikap sejati Indra sebagai seorang bankir muda yang memiliki idealisme tinggi untuk bangsa dan Negara. Sebagai Direktur Utama Bank Sampoerna, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini adalah sosok yang mampu memadukan kesuksesan sebagai seorang pebisnis dan sebagai anak bangsa yang tak hanya berpikir bagaimana meraih profit tapi juga bagaimana membangun dan memajukan bangsa dan negaranya dan peduli terhadap pemberdayaan masyarakat.

Kariernya di Bank Sampoerna diawali dengan bergabungnya ia dalam “Sahabat UKM-Sampoerna Microfinance”, dengan badan hukum Koperasi yang dikelola khusus untuk memberdayakan kalangan pengusaha mikro dan kecil di tahun 2008. Hal ini sesuai dengan aspirasi dari Keluarga Sampoerna yang sangat peduli terhadap pemberdayaan masyarakat prasejahtera. Salah satu aktivitas yang dilakukan adalah dengan membantu Ibu-ibu miskin di Jawa Timur melalui program yang disebut dengan Kelompok Wanita Tanggung Renteng (KWANTREN) yang merupakan pola pemberdayaan mirip dengan Bank Grameen yang digagas Muhammad Yunus di Bangladesh  yang memberikan pinjaman kecil kepada orang yang kurang mampu tanpa membutuhkan collateral. 

Indra mengelola lembaga sekelas koperasi itu sembari mempersiapkan proses akuisisi atas PT Bank Dipo Internasional (Bank Dipo). Proses akuisisi Bank Dipo yang kemudian berhasil dibereskannya pada tahun 2011 inilah yang kemudian berganti nama menjadi Bank Sahabat Sampoerna atau biasa disebut dengan Bank Sampoerna. Nama boleh berganti tapi semangatnya tetap sebagai lembaga keuangan yang peduli terhadap pelaku usaha mikro, usaha kecil, dan menengah (UMKM). Karena harapan Indra adalah ingin para pelaku mikro UKM ini bisa naik kelas ke skala yang lebih besar. Inilah yang membuat ia harus sering keluar masuk kampung bersama team-nya guna memberikan motivasi kepada para pelaku mikro UMKM di berbagai daerah di Indonesia. Sekadar catatan, kalau saja putra perwira TNI AL ini tak peduli dengan persoalan masyarakat di bawah, mungkin ia tak perlu repot-repot meninggalkan safety zone yang ia rasakan sebelumnya. Betapa tidak, jauh sebelum berkutat dengan dunia mikro UKM, Indra sempat menduduki posisi empuk dan bergengsi di sejumlah perusahaan multinasional; ia pernah menjadi Direktur di PT GE Finance Indonesia, Direktur Bisnis di GE Internasional Indonesia, Direktur Bank Tiara, AVP di Citibank, serta Komisaris PT Astra Sedaya Finance. 

Dari sebuah entitas bisnis yang sudah mapan dan kemudian harus membangun institusi baru dari nol, adalah sebuah tantangan sendiri baginya. Itulah  yang ia rasakan ketika proses akuisisi Bank Dipo selesai kemudian berubah nama jadi Bank Sahabat Sampoerna dan ia duduk sebagai Direktur Utama. “Saya juga nggak pernah menyangka punya kesempatan untuk membangun sebuah institusi itu dari nol, betul betul dari nol. Karena saya selalu berada di lingkungan yang sudah mapan, tinggal meneruskan atau mengembangkan. Nah di Sampoerna ini,saya diberi amanah untuk membangun sebuah institusi yang mengayomi wong cilik, orang-orang usaha mikro kecil yang selama ini di Indonesia itu termajinalkan,” ujarnya. Indra pun harus memutar otak menghadapi bank lain yang merupakan ‘pemain lama’ dengan modal dan asset yang luar biasa dan menjalankan pola transaksional murni.

Sementara Bank Sampoerna di satu sisi adalah lembaga bisnis yang harus memberikan values optimal untuk pemegang saham, namun di sisi lain harus bisa memberikan impact kepada masyarakat mikro dan UKM yang kadang memiliki karakter yang berbeda dari nasabah perbankan modern. “Nah menjaga keseimbangan itu yang menurut saya menarik. Yang nggak mudah,” ia tersenyum.

Kini, dalam usia yang relatif muda, Bank Sampoerna sedikit demi sedikit mulai mampu menjaga keseimbangan itu. Bank yang sudah melebarkan sayapnya dengan 12 jaringan di Jakarta, Sumatera Utara, Pekanbaru, Palembang, Surabaya dan Bandung didukung layanan ATM Prima, terus tumbuh untuk dapat lebih bersaing.  Di Juni 2013 ini, kinerjanya cukup kinclong dengan total aset mencapai Rp2,2 triliun, naik 3x lipat dari total asset pada saat akuisisi sebesar Rp700 miliar, CAR 21,27% dan NPL gross-nya 1,25% dengan profit before tax sebesar Rp10,7 miliar. Kesuksesan itu tentu tak lepas dari ‘tangan dingin’ Indra yang membangun team work dengan prinsip bahwa setiap individu di Bank Sampoerna adalah suatu investasi dan pondasi keberadaan perseroan jangka panjang, disamping juga nilai-nilai budaya (Corporate Values) menjadi filosofi dan landasan dasar bagi seluruh insan yang ada di perusahaan.

Dengan kiprah yang dilakukannya selama ini, Indra berharap bisa menjadi motivasi tersendiri bagi anak-anak muda untuk berani berkontribusi bagi negeri ini meski harus dihadapkan pada pilihan yang sulit. “Kadang kita harus memilih yang susah. Kalau kita semuanya mau yang enak, kerja di bank besar, hanya mau mencari berada di dalam zona nyaman, terus nanti siapa yang mengerjakan perintis-perintis ini. Jadi saya pikir ini adalah tugas kita bersama untuk bisa mengkomunikasikan bahwa, sebetulnya banyak kesempatan kita untuk berkarir, banyak kesempatan kita itu untuk berkontribusi. Dan sehari hari itu sebetulnya sangat nikmat, kita itu bersentuhan dengan mereka dan membuat banyak hal yang baru, dibanding orang yang sudah mapan, yang sudah rutin kegiatannya. Nikmatnya melihat kebahagiaan para pelaku mikro ketika mereka berhasil. Walaupun harus diakui banyak juga dukanya. Dinamikanya lebih besar,” paparnya.

Ketika Bom Nyaris Membunuhnya dan Bekerja Itu Ibadah

Bicara soal kenapa ia mau ‘banting setir’ dari posisi yang sudah nyaman sebelumnya kemudian berpindah mengurus perbankan yang bersentuhan dengan rakyat kecil, menurutnya sangat manusiawi. “Seringkali orang itu selalu melihat what’s next ? Kebetulan saya telah berada pada satu titik kemapanan tersendiri, lalu  apalagi yang ingin saya capai? Jadi kalau misalnya saya punya list di dalam hidup ini. Dulu misalnya saya selesai kuliah, lalu bekerja, menikah, punya anak, berkarier dan sebagainya. Sampai pada satu titik saya pikir, apa lagi yang harus saya capai. Nah saya ingin pada saat di usia saya yang sekarang ini saya bisa memberikan manfaat sebanyak banyaknya kepada orang banyak,” ujarnya. Karena itulah ia selalu menekankan kepada staf dan bawahannya agar menganggap pekerjaan itu sebagai ibadah.

“Teman teman memahami bahwa kalau kita di kantor itu kita sebetulnya membantu orang lain,” tambah pengagum Jenderal (Purn) M. Yusuf dan Ali Sadikin ini. Selain bisa memberikan manfaat bagi orang lain, Indra yang pernah mengikuti berbagai pelatihan program bisnis di berbagai negara ini ingin merasakan kebahagiaan tidak hanya ketika bekerja tapi juga saat bersama-sama keluarga di rumah. Hal itu sesuai dengan prinsip hidup penyuka olahraga lari  dan renang ini, yakni menjaga keseimbangan dalam hidup (work life balance). 

Ya, kesadaran untuk menjaga keseimbangan hidup ini lahir dalam dirinya justru ketika ia berada dalam kondisi menjadi korban ledakan bom di Hotel JW Marriot, Jakarta Selatan pada 8 Agustus 2003 lalu. Ketika itu sekujur tubuhnya mengalami luka bakar serius (3rd degree) sampai-sampai harapan untuk hidup seperti tidak ada. Ia saat itu sedang melakukan meeting dengan sejumlah koleganya.

“Kejadian itu seperti mengingatkan saya ada hal yang selama ini mungkin saya lupakan. Jadi saat itu saya sedang asyik berkarier dan sebagainya, terus dengan kejadian itu menjadi refleksi diri bagi saya, titik balik dan sebagainya, oh iya kita mungkin harus menyeimbangkan diri lagi. karena di antara korban itu saya yang termasuk yang salah satu yang paling parah, paling lama dirawat dan sebagainya. Teman saya akhirnya meninggal. Dengan kejadian itu sih saya mungkin mempersepsikan hidup itu menjadi berbeda. Kurang lebih itu,” kenangnya.

Indragrafi :
Nama :
Indra Wijaya Supriadi. Lahir: Jakarta, 12 Mei 1967. Pendidikan : Fakultas Ekonomi UI. Jabatan : Direktur Utama PT Bank Sahabat Sampoerna.

Rimbun Situmorang

Membangun Indonesia dari Kota Kecil

Naskah: A. Rapiudin, Foto: Fikar Azmy

“Pemuda yang tidak pernah gagal adalah pemuda yang tidak berhasil. Kegagalan tidak dimaknai sebagai akhir dari segalanya,  tetapi justru awal dari kebangkitan.”

Kalimat itu meluncur dari lisan Rimbun Situmorang, orang muda yang sukses dalam membangun perusahaan berskala nasional. Rimbun Situmorang adalah Direktur Utama PT Citra Borneo Indah, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Memulai karir di perusahaan tersebut sejak 1992 sebagai staf. Perjalanan karirnya terus menanjak naik. Pada 1994 ia dipromosikan menjadi Head of Commerce. Tahun 1997 dipromosikan menjadi Marketing Manager. Dua tahun kemudian pada 1999 diangkat menjadi Director of Production Commerce. Tahun 2001, Rimbun diangkat menjadi Director of Operation. Tak berhenti samapi di situ, pada 2010,  ia menjadi Direktur Utama PT Citra Borneo Indah.

Rimbun mengawali karir di PT Citra Borneo Indah dari bawah. Bahkan, pada saat itu ia mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi bidang pekerjaannya. Justru dari situlah ia banyak menyerap ilmu yang amat bermanfaat bagi dirinya.

“Jadi kita kerja itu bukan hanya pada bidang kita saja yang dikerjakan. Kalau masih ada waktu dan kesempatan kerjakan saja pekerjaan bidang lain, karena dari situlah kita belajar. Ini pula yang saya sampaikan kepada karyawan  agar jangan pernah membatasi diri hanya pada bidang pekerjaannya saja. Karena kalau membatasi diri berarti membatasi kita untuk menimba ilmu,” terangnya.

Saat memulai karir, Rimbun mengaku tidak tahu akan menjadi apa nantinya. Yang dia lakukan adalah bekerja sebaik-baiknya, termasuk  mengerjakan pekerjaan yang bukan bidangnya. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan tanpa mengeluh. Pengalamannya itu diterapkan Rimbun kepada para karyawannya saat ia memegang jabatan sebagai Direktur Utama PT Citra Borneo Indah.

“Saya pikir job tittle-nya memang seperti itu, tapi fungsinya sama seperti  yang saya lakukan dulu sebelum jabatan yang sekarang,” ucapnya merendah.

Dibawah kepemimpinan Rimbun, PT Cipta Borneo Indah terus tumbuh dan berkembang kian pesat. Sayangnya pertumbuhan yang pesat tersebut tidak diimbangi dengan pertumbuhan di sumber daya manusia (SDM) di perusahaan tersebut.

Menyikapi kondisi tersebut,  perusahaan kemudian menggunakan tenaga dari luar untuk mengisi kekosongan SDM. Rimbun berharap tenaga dari luar tersebut akan bisa mendidik tenaga-tenaga di internal perusahaan, sehingga ke depannya  merekalah yang akan menggantikan peran  tenaga dari luar tersebut. “Kami memang sangat membutuhkan tenaga-tenaga professional dari luar, karena pertumbuhan perusahaan yang sangat pesat,” ujar pria yang punya hobi menyanyi ini.

Yang menarik dari perusahaan ini adalah kantor pusat tidak berada di Jakarta, tetapi di Pangkalanbun, Kalimantan Tengah. Dari kota kecil di pelosok negeri inilah, PT Citra Borneo Indah turut membangun Indonesia. Sesuai moto perusahaan “Karya Nyata Untuk Negeri”, perusahaan ini terus menyumbangkan sumbangsihnya bagi kemajuan Negara ini.

Rimbun menjelaskan, moto Karya Nyata Untuk Negeri” dimaknai dimana bumi dipijak disitu  langit dijunjung. Ia ingin membuktikan bahwa berkarya untuk bangsa bisa dilakukan di mana saja, termasuk di kota kecil.

“Kami mencoba berbeda dengan perusahaan lain yang kebanyakan mengambil posisi di Jakarta. Dengan berkantor pusat di daerah, kami  berani mengklaim bahwa kami yang termasuk membangun daerah dengan menjadi obyek pajak terbesar di daerah itu.Kalau perusahaan lain kan obyek pajaknya di Jakarta yang hasilnya diambil dari daerah. Ini  kan tidak adil,” katanya.

Selain turut membangun daerah, pemilihan kantor pusat di daerah membantu Jakarta dalam mengurai tenaga kerja yang kian menumpuk jumlahnya.  Yang tidak kalah pentingnya adalah pemerataan ekonomi. Roda ekonomi tidak hanya berpusat di  Jakarta, tetapi juga mengalir ke daerah.

“Kami juga ingin memberi dampak postif kepada masyarakat di daerah sekitar perusahaan. Apalagi, kami ini adalah orang daerah. Tetapi, meski orang daerah pikirannya tetap mengglobal,” tutur Rimbun.

Sebagai pengusaha sukses di usia muda, Rimbun mendorong pemuda-pemuda Indonesia untuk berperan membangun Indonesia dari berbagai berbagai sektor, termasuk ekonomi. Ia bersyukur kini lahir banyak entrepreneur muda yang kreatif dan dinamis, yang perannya banyak dirasakan masyarakat. Sebab, banyak di antara mereka yang telah ambil bagian membuka lapangan kerja.

Untuk mendorong para pemuda dalam dunia bisnis, maka pemerintah harus memberi kesempatan kepada para pemuda untuk memulainya. Artinya, pemerintah membuka ruang untuk pemuda menunjukkan identitasnya, kreatifitasnya mengembangkan kemampuannya dalam  dunia bisnis.

“Yang penting bagi pemuda dalam memulai usaha adalah kemauan. Kalau skill atau kemampuan itu bisa diasah. Siapa pun orangnya dia harus memulainya dengan kemauan. Sebab, meski seseorang itu punya kemampuan tetapi tidak punya kemauan, maka ia tidak akan jadi apa-apa,” jelasnya. 

  Rimbun menambahkan, banyak pemuda yang tidak punya pendidikan tinggi, tetapi karena punya kemauan keras dalam bisnis, maka dia bisa berhasil. Gagal dalam berbisnis, katanya, bukan suatu masalah. Karena, menurutnya,  pemuda yang tidak pernah gagal adalah pemuda yang tidak berhasil.  Kegagalan tidak dimaknai sebagai akhir dari segalanya,  tetapi justru awal dari kebangkitan.

Soal obsesi, Rimbun mengaku tidak punya obsesi akan jadi apa ke depan. Ia percaya Tuhan sudah menggariskan dirinya akan menjadi apa nantinya. Yang penting dilakukan adalah bekerja dengan sebaik-baiknya, bekerja dengan hati.

“Saya merasa belum bisa memberikan manfaat bagi  orang lain. Tetapi, ketika saya sudah bisa memberi manfaat bagi orang lain, itu arti hidup buat saya,” imbuhnya.

Sebagai pengusaha dengan beban pekerjaan yang cukup berat, membuat Rimbun harus pintar-pintar membagi waktu untuk olahraga. Tenis dan bulutangkis adalah olahraga yang digemarinya. Ia seringkali main bulutangkis bersama karyawannya.

Rimbun punya alasan bermain bulutangkis bersama karyawannya. Ia jadi lebih mengenal sifat dan karakter karyawannya. Dengan demikian pendekatan kepada mereka pun bisa lebih tepat. Tidak ada lagi atasan bawahan, semuanya sama ketika berada di lapangan.

“Makan juga saya bersama dengan para karyawan. Saya tidak suka dibatasi, karena saya akan kehilangan momen kebersamaan dengan mereka. Ada banyak hal yang saya ketahui dari kedekatan dengan karyawan, sehingga jika ada sesuatu mereka tidak sungkan menyampaikannya ke saya. Intinya, saya ingin selalu dekat dengan karyawan. Saya tidak mau ada aturan yang membuat jarak antara saya dengan anak buah saya,” paparnya. 

 Meski sibuk dengan pekerjaanya, Rimbun selalu punya waktu untuk keluarga. Secara kuantitas, waktu berkumpul dengan keluarga memang sedikit, tetapi yang penting adalah kualitas kebersamaan itu.
“Saya sangat bersyukur punya isteri dan anak-anak yang memahami kesibukan saya, mereka tidak pernah menuntut. Mereka tahu bahwa yang saya lakukan ini untuk mereka. Terutama isteri saya yang sangat mendukung karir saya,” pungkasnya.



Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

         

Popular

   

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250