Search:
Email:     Password:        
 





Bumi Kian Sesak

By Andi Nursaiful (Administrator) - 20 November 2013 | telah dibaca 2276 kali

Naskah: Andi Nursaiful/berbagai sumber      Foto/Ilustrasi: Dok. MO

Pada tahun 2100 nanti, planet Bumi akan dihuni oleh sedikitnya 11 milyar orang. Ledakan populasi ini meningkat 800 juta orang dari perkiraan sebelumnya. Populasi sebesar itu mengundang banyak ancaman, mulai dari ketersediaan makanan, hingga sampah. Lantas apa solusinya? Saatnya beralih mengonsumsi serangga ketimbang daging sapi dan ayam?

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) awal tahun 2013 merilis data terbaru populasi dunia. Pada akhir abad ini (2100), populasi penduduk Bumi mencapai 11 milyar, atau bertambah 3 milyar dari saat ini. Dari jumlah 11 milyar itu, sebanyak 870 juta orang di seluruh dunia diperkirakan akan menderita kelaparan kronis akibat berkurangnya ketersediaan makanan.
 
Itu baru satu isu utama. Sebab, ledakan populasi berarti juga ledakan sampah dan ledakan wabah penyakit. Situs terkemuka LiveScience, mencoba mengidentifikasi sejumlah dampak dan bahaya dari ledakan populasi Bumi.

Keamanan Pangan
Para pakar bersepakat bahwa planet Bumi sebetulnya mampu menghasilkan makanan untuk ii milyar mulut. Masalahnya, masih diragukan apakah manusia mampu membuat produksi itu berkelanjutan, atau belum jelas mampukah manusia mengubah kebiasaan konsumsinya.

Masa depan keamanan pangan dunia bukan sekadar memproduksi lebih banyak makanan. Keamanan pangan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor yangs aling terkait, termasuk jumlah populasi, perubahan iklim, produksi makanan, pemanfaatan makanan (selain dikonsumsi manusia), hingga faktor harga.

Di dunia Barat, kumbang, kalajengking, jangkrik, belalang, dan serangga lainnya, tidak dianggap sebagai makanan. Namun di beberapa negara, termasuk di sejumlah daerah di Tanah Air, serangga banyak dikonsumsi sebagai makanan sehat. Badan dunia FAO, menyebutkan, serangga adalah bahan potensial untuk mengatasi kekurangan pangan, saat ini dan di masa depan.

Solusi lain tengah diupayakan oleh para ilmuan di Belanda, yaitu menciptakan daging yang bisa ‘tumbuh’ ibarat menanam tumbuhan. Sel dari sapi hidup diambil dan dikembangkan di lab. Awal tahun 2013, mereka sudah memperkenalkan burger yang berisi daging yang ‘ditanam’ di lab. Hasilnya, tak jauh beda dengan daging dari sapi hidup. Masalahnya, harga daging buatan itu mencapai USD325 ribu!

Ketersediaan Air Bersih
Dewasa ini, ada 2,7 juta penduduk Bumi yang kekurangan air bersih di seluruh dunia. Bahkan, air bersih menjadi pemicu konflik di wilayah Barat Daya AS, Timur Tengah, dan kawasan sub-Sahara Afrika. Tak sulit diprediksi bahwa konflik itu akan meluas seiring ledakan populasi di masa depan.

Para ilmuan kini bekerja keras untuk mengitung kembali ketersediaan air bersih di seluruh permukaan Bumi pada tahun 2100 nanti, sekaligus menciptakan teknologi pengolahan air yang lebih efesien. Meskipun air bersih di muka Bumi mencukupi untuk 11 milyar populasi, ada sebagian kawasan di Bumi yang akan kehabisan air bersih pada tahun 2100 nanti.

Perubahan Iklim
Perubahan iklim yang disebabkan oleh 9 milyar populasi Bumi saat ini saja sudah sangat terasa dampaknya, bagaimana jika populasi menjadi 11 milyar, dan efek gas rumah kaca terus berlanjut bahkan lebih meningkat?

Habitat Hewan Liar
Ledakan populasi juga berakibat buruk bagi habitat dan populasi hewan liar di muka Bumi. Isu ini sangat dicemaskan oleh para ahli biologi dan konservasionis. Mereka negeri membayangkan hewan-hewan apa saja yang bakal punah jika ledakan populasi terjadi di tahun 2100.

Wabah Penyakit
Selama beberapa dekade terakhir, para ilmuan sudah banyak dikagetkan oleh berkembangnya begitu banyak penyakit infeksi yang diakibatkan oleh jenis virus dan bakteri baru. Semua virus dan bakteri jenis baru itu muncul seiring meningkatnya populasi yang kemudian diikuti oleh perubahan iklim. Dengan kata lain, jika populasi terus bertambah, maka virus dan bakteri baru pun ikut bertambah.

Yang lebih mengerikan, penyebaran virus dan bakteri baru secara global, di masa depan akan lebih mudah dan cepat, berkat perkembangan teknologi transportasi yang memungkinkan pergerakan lebih cepat manusia di muka Bumi. Selain itu, ledakan populasi juga membuat manusia mulai menghuni wilayah liar, kontak dengan hewan-hewan baru, dan otomatis mengundang jenis agen pembawa penyakit yang baru.

Sanitasi
Ledakan populasi berarti ledakan sampah dan kotoran manusia. Sejumlah negara kecil, seperti Hong Kong, mulai kewalahan soal ini. Terlebih, jumlah kotoran per kapita ternyata juga meningkat, seiring pola konsumsi manusia yang juga berkembang.

Di seluruh dunia, ada sedikitnya 2,6 milyar orang yang bahkan tak memiliki akses untuk sanitasi standar saja. Pengelolaan kotoran yang tidak tepat jelas berakibat pada masalah kesehatan yang serius bagi masyarakat.  

Sulit membayangkan masalah besar apa yang telah kita wariskan bagi anak cucu kita di masa mendatang.

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

     
               

Popular

   

Photo Gallery

     

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250