Search:
Email:     Password:        
 





Oei Hong Djien: Dari Picasso Sampai Van Gogh

By Giatri (Editor) - 03 November 2014 | telah dibaca 2912 kali

Naskah : Giattri, Foto : Istimewa

Oei Hong Djien atau akrab disapa OHD adalah pengusaha yang punya hobby mengoleksi lukisan-lukisan para maestro dunia. Sebut saja lukisan karya Picasso dan Van Gogh. Selain itu bos tembakau ini juga mengoleksi karya lukisan perupa maestro Indonesia. OHD bukan sekadar “tukang kumpul” lukisan, ia juga mampu menulis dan memberikan kritik pada setiap karya seni. Jarang menemukan kolektor setangguh dirinya.

Namanya sebagai kolektor sangat dikenal di kalangan seni rupa di seluruh Indonesia dan berbagai negara. Pada awalnya OHD memiliki lukisan karya maestro dunia seperti Picasso, Van Gogh, Monet, dan Rembrandt. Grader untuk PT. Djarum Kudus itu sangat bergaul akrab dengan lingkungan pelukis.

OHD mengenal lukisan sejak masa kanak-kanak. Perkenalan dengan lukisan boleh dibilang warisan orang tuanya. Ayah dan kerabat-kerabatnya termasuk penikmat dan kolektor lukisan. Dinding rumah dipenuhi lukisan tua peninggalan Belanda. Tapi tak satu pun kerabat OHD yang berbakat menjadi pelukis hebat, tak terkecuali dirinya.

Tumbuh besar di lingkungan keluarga yang gandrung pada lukisan membuatnya jatuh cinta. Minat OHD pada lukisan mulai terlampiaskan manakala ia hijrah ke Jakarta untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia jadi rajin mengunjungi pameran lukisan serta galeri lukisan yang ada di ibu kota. Namun, calon dokter itu baru sebatas menikmati lukisan tapi tak kuasa membeli. OHD baru benar-benar mampu membeli sebuah lukisan pada 1965, setelah enam tahun menabung sebagian uang saku kiriman orang tuanya.

Hobi bertandang ke galeri lukisan dan pameran lukisan kian menjadi saat melanjutkan kuliah ke negeri Belanda. Ia bahkan makin rajin mengikuti seminar-seminar yang membahas karya seni. Dari situlah pemahaman serta wawasannya terhadap lukisan makin bertambah, dan kian lihai menilai lukisan.

Kesibukan mengelola usaha jual beli tembakau tak menyurutkan kegemarannya mengumpulkan lukisan. Ia tetap saja rajin melihat pameran atau lelang lukisan dan menyambangi galeri untuk memburu lukisan yang diinginkannya. Apalagi kala itu ia sudah punya bekal dana yang cukup. Ia tak mematok hanya pada pelukis ternama, lukisan para pemula juga diborongnya.

OHD berburu lukisan tidak sebatas di pameran lukisan. Ia juga menyambangi langsung seorang pelukis agar mendapatkan lukisan berkualitas. OHD rela berjam-jam menunggui maestro lukis Indonesia, Affandi, yang sedang melukis seraya mengamati goresan tangan Affandi.

Pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 5 April 1939 itu juga dikenal berteman dekat dengan pelukis kondang Widayat. Bahkan,Widayat kerap memintanya memberi komentar terhadap lukisan yang sedang dibuatnya. Sebagai imbalannya Widayat menghadiahinya beberapa lukisan. Kedekatannya dengan sejumlah pelukis ternama membuat ketajaman dan keterampilannya menelisik lukisan kian terasah. Inilah cikal-bakal keahliannya sebagai seorang kurator atau penilai lukisan.

OHD pernah berburu lukisan karya Affandi, Sudjojono dan Widayat hingga Rio de Janeiro, Brasil. Ceritanya, ada mantan Duta Besar Brasil yang saat bertugas di Indonesia gemar mengoleksi lukisan seniman ternama Indonesia. Sayang, koleksi yang berada di Rio de Janeiro itu tak terawat dan malah akan dilelang. Jadilah ia terbang ke ibu kota negeri samba dan memborong 20 lukisan koleksi mantan sang duta besar.

Nama OHD sendiri sekarang sudah melambung dan menjadi jaminan kepatenan seorang kolektor maupun kurator lukisan. Ketenarannya bahkan sudah melampaui batas negara dan benua. Pria kelahiran Magelang 66 tahun silam ini sudah berkali-kali didaulat menjadi kurator dalam berbagai lelang lukisan di mancanegara. Ia juga kerap menjadi pembicara dalam sebuah pameran lukisan atau sekadar menggoreskan tulisan sebagai pengantar sebuah katalog lukisan.

Kegemarannya pada lukisan bukan untuk investasi atau berdagang lukisan. Ia hanya rela menjual jika benar-benar sudah tak cinta lagi pada sebuah lukisannya. Sayangnya itu pun jarang sekali dilakukannya. "Ya, paling-paling untuk hadiah perkawinan atau ulang tahun," ujarnya terkekeh.
OHD memaparkan dalam mengoleksi lukisan. Mula-mula senang, lalu jadi kecanduan. Kalau seseorang itu memiliki jiwa kolektor sejati, maka apa-apa yang sudah ia dapatkan, pasti akan ia pertahankan habis-habisan. Tapi kadang-kadang, memang tidak semua bisa dipertahankan, karena dalam proses mengoleksi benda-benda apalagi karya seni itu, ada perkembangan selera dan kepekaan estetika.
“Yang dulu kurang senang, eh sekarang malah kesengsem, yang dulu begitu disukai kemudian menjadi biasa-biasa saja. Kalau sudah kurang senang kemudian dilepas, itu wajar. Lukisan yang dulu saya senangi, yang dibeli tahun 1965-an, sekarang malu kalau saya pertontonkan. Tapi koleksi itu saya pertahankan karena ada nilai historisnya,” ujarnya.

Kecintaannya terhadap lukisan, menggerakan hatinya untuk membagi koleksinya kepada publik. Lantas ia pun membidani museum yang berisi karya seni rupa anak bangsa seperti Affandi, Basoeki Abdullah, Lee Man Fong, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, Widayat, Rcky Anugrah Suryadi, Edi Sunaryo, Heri Dono, Nasirun, Agus Suwage, Ugo Untoro, Dadang Christanto, dan masih banyak lainnya. Museum yang berada di Jl P Diponegoro No 74, Magelang itu dinamainya OHD Museum.

Berada di dalam museum benar-benar akan menarik Anda ke dunia seni yang penuh makna dan pesona. Ratusan karya seni tersebar di sini, dengan berbagai ukuran dan berbagai makna di balik warna-warni lukisan. Ada lebih dari 1.500 karya seni yang mejeng di kedua museum ini.

"Museum ini dibuat untuk mengenalkan kepada masyarakat Indonesia dan dunia bahwa karya seni rupa Indonesia tidak kalah indah dengan seni rupa taraf dunia dan sengaja dibuka untuk umum agar karena seorang kolektor akan bangga kalau koleksi-koleksinya dinilai oleh publik sebagai karya-karya terbaik. Kalau saya punya museum, jadi saya bisa mendapatkan komentar publik di buku komentar, bagaimana pandangan mereka tentang koleksi saya. Kalau komentarnya bagus, kan saya bangga saya telah berjalan on the right track,” ungkap OHD.

Museum yang terbagi 2 ini memiliki 2 jenis koleksi yang benar-benar berbeda. Museum OHD 1 terdapat karya-karya seniman Indonesia pada zaman sebelum dan saat kemerdekaan. Museum OHD 2 berisi seni rupa modern.

Atmosfer berbeda akan menerpa Anda saat berpindah museum. Meski bangunannya hanya dipisahkan taman yang berisi patung-patung nyentrik, namun aura seni modern terasa kental di Museum OHD 2. Seni rupa di sini tidak selalu disampaikan dengan media kanvas.

Banyak karya seni yang terbuat dari bekas pesawat, boneka, besi dan kayu bekas. Jiwa muda terasa di sini, seni abstrak dan liar adalah pesona tersendiri yang bisa ditemukan di museum seluas 400 m2 ini. Hal ini disampaikan langsung oleh sang kolektor, OHD. "Karya-karya di sini lebih absrak, fantasinya lebih liar," ucap OHD.

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250