Search:
Email:     Password:        
 





Batik Nusantara ala Shinta

By Giatri (Editor) - 25 May 2015 | telah dibaca 1865 kali

Shinta Dhanuwardoyo sejatinya adalah seorang web designer. Tapi, lulusan Master of Business Administration International Business di Portland State University, Oregon USA, ini juga dikenal sebagai kolektor batik Nusantara.

Kecintaan Shinta kepada salah satu wastra nusantara itu tumbuh sejak kecil. Kala itu, almarhum eyang putri dari ayahnya mengoleksi banyak batik yang di wiron dan digulung dengan apik dalam lemari. Baginya aroma dari batik itu jika lemarinya di buka mempunyai kenangan tersendiri.

“Beliau sering menggunakan kain dan kebaya untuk acara-acara tertentu bahkan di tempat tidur yang di alasi dengan kain batik yang halus dan dingin,” kenang Shinta.

Setelah Shinta mulai bekerja, tepatnya sejak 12 tahun yang lalu, ia kerap menyisihkan sedikit uang untuk membeli batik. Hingga kini ia telah mempunyai lebih dari 100 lembar kain yang disimpan di dua lemari di rumahnya. Sebagian koleksinya ia beli sendiri, namun ada juga yang diberi nenek dan mertuanya.

“Setelah saya mengumpulkan batik, perlahan saya mulai mengenali berbagai motif batik dan filosofinya. Saya paham dengan motif batik yang dipakai seseorang. Ada yang memang khusus digunakan untuk kalangan keraton, upacara pernikahan, mitoni atau upacara kehamilan tujuh bulan, midodareni atau persiapan pernikahan, dan lainnya,” tandasnya.

Menurut Shinta batik terbaik yang pernah dibuat adalah batik Indonesia. Lantaran batik Indonesia memiliki unsur heritage dan art. Proses terciptanya kain batik terbilang sulit dan membutuhkan kesabaran tersendiri. Bayangkan, untuk menyelesaikan sehelai kain harus dibuat pola terlebih dahulu, lalu diberi malam dengan canting, diwarnai, lalu masuk ke tahap pelorotan warna (pencairan lilin), hingga menjadi sehelai batik.

“Bagi saya batik merupakan karya seni yang tak kalah indahnya dengan kreasi seni lainnya. Saya begitu menghargainya sebagai suatu karya seni yang tinggi. Saya belum lihat negara lain melakukan hal yang sama,” kata Shinta.

Namun Shinta menyayangkan, masih ada ketimpangan dalam soal apresiasi. Misalnya, batik tulis tangan halus hanya dihargai Rp20 juta dan malah dikatakan mahal. Padahal, dibandingkan lukisan, harganya malah bisa mencapai ratusan juta, tidak ada yang mengeluh,” ungkap founder www.bubu.com ini panjang lebar.

Shinta juga turut prihatin melihat kian berkurangnya anak-anak muda yang tertarik membatik. Kemajuan modernisasi yang menyerbu ke berbagai pelosok daerah, membuat kegiatan membatik tidak menjadi hal menjanjikan. Banyak dari mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau mal.

Bila ditanya batik mana yang paling Shinta suka? Dengan tegas Shinta menjawab semuanya, seperti batik Kelengan. Menggunakan warna indigo, percampuran putih dan biru. Warna natural yang diperoleh berkat ekstrak daun nila (Indigofere Tinctoria). Teknik ini sudah digunakan sejak masa era kolonial Belanda.

Lainnya adalah batik Tiga Negeri. Menengok sejarahnya, di zaman kolonial setiap wilayah memiliki otonomi sendiri dan disebut negeri. Mungkin kalau hanya perpaduan motif khas masing-masing daerah masih terhitung wajar. Tetapi, yang membuat batik ini memiliki nilai seni tinggi, justru terletak pada prosesnya karena gabungan batik khas Lasem, Pekalongan, dan Solo.

Menurut para pembatik, air di setiap daerah mempunyai pengaruh besar terhadap proses pewarnaan. Hal demikian logis mengingat kandungan mineral air tanah berbeda-beda sesuai letak geografisnya. Maka dibuatlah batik itu di masing-masing daerah.

Proses pertama, kain batiknya dibuat di Lasem dengan warna khas merah. Setelah itu, dibawa lagi ke Pekalongan dan dibatik dengan warna biru. Terakhir kain diwarnai cokelat sogan yang khas kota Solo. Tidak heran, Shinta begitu gembira ketika ia bisa memiliki batik Tiga Negeri.

“Dengan kombinasi tiga warna, masing-masing kotak mempunyai motif tersendiri. Saya menyukai warnanya yang unik, “ jelasnya dengan bangga.

Shinta juga mempunyai batik warna biru langka yang ia beli di salah satu museum di San Fransisco, selembar batik Sumatera Sembagi berwarna cokelat. Selain itu, Batik Hokokai juga menjadi koleksinya, merupakan batik yang diproduksi di masa penjajahan Jepang. Warnanya cantik, dengan motif kupu-kupu, bunga cheri Jepang, dan burung merak.

Sebagai pecinta batik, Shinta tak menyimpan ‘ilmunya’ hanya untuk diri sendiri. Ia memiliki blog www.batikantik.com, misinya adalah memperkenalkan batik Indonesia yang antik maupun baru serta memberi edukasi bagaimana batik Indonesia itu sangat versatile bisa di pakai oleh siapa saja dan di berbagai macam ocassion.

“Saya sengaja membuatnya dalam bahasa Inggris, agar banyak orang di luar Indonesia bisa mengerti tentang batik,” tuturnya ramah.

Di dalam batikantik.com, Shinta menulis sejumlah artikel yang berhubungan dengan batik Indonesia. Beberapa di antaranya menampilkan profil maestro batik Indonesia, yakni Iwan Tirta dan Josephine Kumara atau Obin. Blognya juga menampilkan banyak foto-foto koleksi batik miliknya, termasuk perhiasan antik dan juga beberapa karya seni Indonesia. Menariknya, ada satu artikel berikut foto, seorang selebriti Hollywood, Nicole Ritchie, tampak menggunakan selendang hijau--yang dipercaya Shinta--adalah batik Indonesia.

Ada cerita menarik yang Shinta alami terkait batik. Saat David Foster and Friends konser di Jakarta pada Oktober beberapa tahun lalu. Ketika itu David datang bersama Charice. Shinta berjuang keras untuk bertemu dengan penyanyi remaja putri itu.

“Saya tahu ia kenal dengan Oprah Winfrey. Itulah sebabnya, saya minta Charice agar mengirimkan batik untuk Oprah. Akhirnya, saya bisa bertemu dengannya. Saya memberinya scarf batik sutra berwarna abu-abu dan biru laut dari Komar Batik. Ia begitu cantik dengan batik tersebut. Saya juga menitipkan scarf batik untuk Oprah. Harapan saya semoga Oprah akan memakainya,” ceritanya.

Kedepan Shinta ingin koleksinya bisa menjadi semacam data base berbentuk buku batik. Satu per satu batiknya difoto dan akan diberikan penjelasan mengenai latar belakang. Hanya saja, di tengah kesibukannya saat ini ia belum memiliki waktu untuk menggarapnya.

“Karena kalau foto batiknya kan kualitasnya mesti bagus. Kainnya harus digosok terlebih dahulu, lalu diambil per bagian dan digabungkan kembali dengan photoshop. Namun, ini adalah proyek besar yang harus saya lakukan di waktu mendatang,” katanya.

Sebagai upaya untuk memperkenalkan batik ke kancah internasional. Kini, Shinta tengah mempersiapkan blog batik antiknya menjadi e-commerce untuk jual beli batik.

“Tetap ada artikel mengenai batik. Saya berharap masyarakat dunia jadi lebih memahami, bukan sebagai sekadar kain, tapi karya seni yang memiliki filosofi mendalam,” pungkasnya.

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250