Search:
Email:     Password:        
 
 





Dr. H.M Aziz Syamsuddin The Rising Star di Pucuk Beringin

By Benny Kumbang (Editor) - 12 May 2016 | telah dibaca 2290 kali

Dr. H.M Aziz Syamsuddin The Rising Star di Pucuk Beringin

Naskah: Tim Redaksi OMG, Foto: DOk. MO/Istimewa

Tak banyak politisi muda yang memiliki pandangan visioner dan jiwa leadership serta ketulusan dalam berpolitik. Dari yang tidak sedikit itu, Haji Muhammad Aziz Syamsuddin adalah salah satunya.

 

Dimana ia berada, di situlah ia menoreh prestasi. Ya, begitulah Aziz Syamsuddin. Ia adalah sosok anak muda multi talenta, cerdas, energik dan syarat prestasi. Pernah sukses sebagai bankir, dan mumpuni saat berkarier sebagai pengacara, mantan Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), ini akhirnya memilih berlabuh di dunia politik dengan Partai Golkar sebagai wahananya.


Sebagaimana di karier sebelumnya, di politik ia juga memperlihatkan diri sebagai sosok yang cemerlang. Betapa tidak, ketika pria kelahiran Jakarta, 31 Juli 1970, ini berkiprah di partai berlambang pohon beringin dan mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif pada Pemilu tahun 2004, ia mampu meraup dukungan cukup signifikan, sebesar 46, 261 suara (11, 30 % dari total suara pemilih) untuk Daerah Pemilihan (Dapil) II Provinsi Lampung. “Alhamdulillah, berkat kehendak Allah SWT, saya mendapatkan kepercayaan masyarakat Lampung sebagai anggota DPR untuk periode 2004-2009,” ungkap peraih gelar Master Applied Finance (MAF) dari University of Western Sydney, Australia, ini dengan rendah hati.


Apa yang dimiliki Aziz saat ini, jelas karena tempaan orang tuanya yang selalu mendidiknya secara disiplin dan relijius. Ayahnya H. syamsuddin Rahim yang juga seorang pejabat di salah satu ban BUMN dan sang Ibu Hj. Chosiyah Hayum, guru ngaji kelahiran Karanganyar, Sumatera Selatan.


Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, Aziz mendapatkan perlakuan yang sama dengan keempat kakaknya. Diberikan kasih sayang namun tidak dengan memanjakan secara berlebihan. Meski dari keluarga berkecukupan, jangan harap Aziz mendapat keistimewaan dalam soal materi. Uang jajan sekolahnya sejak SD hingga kuliah bahkan harus dijatah.


Karena sang ayah adalah seorang bankir yang kerap bertugas memimpin bank diseluruh daerah, membuat masa kanak-kanak dan remaja Aziz Syamsuddin banyak dihabiskan di berbagai kota di Indonesia. Hal itu membuat ia banyak mengenal karakter orang di berbagai daerah. Tapi, meski harus berpindah-pindah sama sekali tak mempengaruhi prestasi belajarnya. Ia selalu masuk ranking lima besar sejak SD hingga SMA. Tak heran ketika duduk di SMA Negeri 2 Padang, sumatera Barat, prestasinya itu telah mengantarkannya ke kursi Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, Padang melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) yang artinya ia lulus masuk perguruan tinggi negeri tersebut tanpa harus mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru.

Menjaga Kesehatan Lahir Batin, Itu yang Utama

“Kita mati kan tidak membawa harta. Yang dibawa mati adalah keyakinan”

Di tengah-tengah kesibukannya, Aziz masih menyempatkan diri menyalurkan hobi yang disukainya sejak muda, yakni membaca. Segala jenis buku dilahapnya setiap malam, tak terkecuali buku-buku religi dan tafsir Alquran. Aziz mengaku, dari situlah ia mendapatkan pemahaman dan makna menjalankan hidup di dunia yang hanya sementara ini. Dari situ pula ia belajar memaknai serta menjalankan hidup dengan ikhlas tanpa beban.


Baginya, apapun yang dikerjakannya sehari-hari terutama jabatan dan pekerjaan merupakan ibadah yang harus dilakoninya dengan ikhlas. “Dengan berpegang pada prinsip itu, saya menikmati apa yang saya lakukan. Karena saya yakin, jika niatnya benar maka apapun yang saya lakukan akan dinilai oleh Allah sebagai ibadah,” tuturnya kepada Men’s Obsession. Aziz menambahkan, dengan ‘nawaitu’ ibadah, maka jika apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan, ia tak lantas menjadi kecewa, “ya memang belum diridhoi Tuhan, ya jangan ngotot,” ucapnya santai.


Hal itu pula yang membuatnya bisa menjalani hidup dengan ikhlas, tenang serta tidak ambisius dalam mengejar sesuatu. Itu pula yang selalu ditanamkan kepada kedua buah hatinya, Syafira Harum dan Karim Nugroho Syamsuddin. “Saya tanamkan hal itu ke anak-anak saya. Punya ambisi boleh tapi jangan ambisius. Karena kalau ambisius Anda akan menghalalkan segala cara. Nah pada saat menghalalkan segala cara itulah setan akan menggoda. Anda sudah tidak bisa kontrol diri Anda,” ujarnya.

Percayakan pada yang Muda

“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia!”

Begitu penggalan kalimat dalam salah satu pidato Bung Karno semasa menjabat sebagai presiden Republik Indonesia. Dalam buku biografi, “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams, kembali muncul kutipan. “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.”


Sang Proklamator sungguh yakin bahwa masa depan gilang gemilang memang terletak di pundak para pemuda. Bung Karno sendiri sudah membuktikan, ia mampu memimpin revolusi yang memerdekakan Indonesia dan menjabat Presiden RI pertama di usia relatif muda, 44 Tahun.


Pemuda selalu identik dengan sosok individu berusia produktif dan berkarakter khas, yakni penuh sikap optimis, berpikiran maju, dan memiliki vitalitas tinggi, serta selalu mengikuti perkembangan global. Kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau dan mampu menghadapi perubahan, bahkan kerap menjadi pelopor perubahan itu sendiri.


Sejarah mencatat, begitu banyak pemimpin muda yang membuat gebrakan yang membawa perubahan untuk negaranya. Selain Soekarno, bukankah sebagian inisiator pergerakan dan revolusi Indonesia adalah para pemuda seperti Bung Hatta, Bung Tomo, dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sucipto, dan lain-lain?


Di era kekinian, kita menyaksikan kiprah membanggakan dari sejumlah pemimpin muda di daerah yang sukses membawa daerahnya menuju perubahan dan kemajuan. Ada Ridwan Kamil di Bandung, Bima Arya di Bogor, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, Zumi Zola di Tanjung Jabung Timur, hingga Rita Widyasari di Kutai Kartanegara.


Atau cobalah tengok ke luar. John .F. Kennedy dan Barack Obama di Amerika Serikat adalah tokoh-tokoh muda yang berhasil di bidangnya. Jika Anda jeli mengamati, sesungguhnya presiden di negara-negara besar semakin lama justru semakin muda.


Singkatnya, pergerakan sebuah bangsa dalam menyongsong kemajuan di segala bidang tidak pernah lepas dari upaya dan kerja keras dari kaum mudanya. Merekalah agent of change yang sesungguhnya. Di pundak merekalah perbaikan dan kemajuan bisa dipercayakan.

Siap Kembalikan Kejayaan Golkar

Sosok Azis Syamsuddin adalah seorang pria yang tidak suka melontarkan komentar panas yang memancing kegaduhan. Baik dalam wacana politik, pemerintahan, maupun menyangkut persoalan-persoalan nasional lainnya. Dia lebih suka berbuat sesuatu yang nyata dan bermanfaat untuk banyak orang. Sikap yang dewasa tak jarang membuatnya sering dilibatkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan, baik di internal partai Golkar maupun di luar kepartaian.


“Jika terpilih menjadi ketua umum Golkar, saya ingin membangun kembali kejayaan Golkar menjadi partai yang modern, bermartabat, demokratis, dan inovatif. Berbagai program yang dijalankan harus mensejahterakan dan memakmurkan rakyat Indonesia. Tentu keinginan rakyat ini nanti diaplikasikan dalam bentuk undang-undang, kebijakan negara, dan pemerintah, lalu diaplikasikan untuk mensejahterakan masyarakat. Saya akan menjalankan amanah tersebut sebaik mungkin dan mendukung pemerintahan Joko Widodo dalam setiap kebijakan-kebijakan yang ada,” papar Azis dalam kampanye safari politiknya di Tanah Air dalam rangka meminta restu dan dukungan dari masyarakat sebagai ketua umum Golkar.


Menurut tim suksesnya, Bowo Sidik Pangarso, sekretaris fraksi Golkar di DPR, dukungan dari pengurus Golkar di 34 Provinsi di Indonesia sudah didapatkan. “Kami bersama calon ketua umum partai Golkar Aziz Syamsuddin telah berkeliling ke 34 provinsi dengan titik terakhir kemarin di Banjarmasin. Semuanya mendorong, agar dia maju sebagai calon ketua umum atau caketum,” ujar Bowo. Komite Sosialisasi dan Kampanye Steering Committee Munaslub Partai Golkar menetapkan 3 zona kampanye terhadap 8 calon ketua umum. Setiap caketum masing-masing melakukan kampanyenya sebanyak tiga kali di tempat berbeda. Zona I (Sumatera) di Medan, Zona II (Jawa dan Kalimantan) di Surabaya, dan Zona III (Sulawesi, Maluku, Papua, NTB, NTT) di Bali.

 

 “Jika terpilih menjadi ketua umum Golkar, saya ingin membangun kembali kejayaan Golkar menjadi partai yang modern, bermartabat, demokratis, dan inovatif.”

 

"Saya Maju dengan Niat Ibadah"

Sebagai kandidat ketua umum yang diperhitungkan dalam Munaslub Partai Golkar tahun 2016, Aziz punya banyak modal untuk bisa terpilih yakni muda, cerdas, dan memiliki pengalaman kepemimpinan yang cukup baik. Tapi, satu alasan kenapa ia siap maju sebagai calon ketua umum partai berlambang pohon beringin. “Ini saya niatkan sebagai ibadah saja,” tegasnya. Berikut petikan wawancara dengan pria bersahaja ini dalam beberapa kesempatan:


Anda diandalkan oleh kalangan muda Partai Golkar untuk maju memimpin dalam Munaslub 2016, ini dan Anda memiliki track record dalam kepemimpinan, bisa dijelaskan ?
Ya, dengan Bismillah, saya Insya Allah saya siap maju. Saya maju dengan niat sebagai ibadah saya. Seperti sabda Rasulullah Saw dari hadis riwayat Bukhari Muslim, yakni, Khairunnas anfa’uhum linnas, yang artinya : Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Selain itu, tentu perlu konsolidasi daerah dalam hal ini. Ke DPD tingkat I dan II, kemudian ke ormas pendiri. Kebetulan, dalam soal kepemimpinan saya pernah memimpin organisasi pemuda sebagai Ketua Umum KNPI periode 2008 - 2011. Di partai menjabat Wakil Ketua Umum DPP Golkar, saya juga Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 sampai saat ini. Bahkan di dunia olah raga saya permnah menjadi Ketua Umum Cabang Olah Raga Cricket 2015 sampai Sekarang. Kalau sebagai anggota Partai Golkar sejak tahun 2004.


Boleh diceritakan sedikit alasan Anda memilih Partai Golkar saat itu ?
Saya memilih Partai Golkar karena waktu SMA sering mendampingi orang tua saya yang pegawai negeri. Lama-lama tertarik juga dengan ideologi perjuangan Partai Golkar.


Apa yang telah Anda lakukan sebagai anggota Fraksi Partai Golkar di DPR RI ?
Sebagai angota DPR RI sejak tahun 2004 saya sudah berusaha semaksimal mungkin memperjuangkan kebijakan Partai Golkar yang tertuang dengan beralaskan ideologi perjuangan.


Apa yang Anda perjuangkan dan menurut Anda sudah tercapai ?
Yang sudah tercapai antara lain dalam membuat Undang Undang bersama-sama dengan pemerintah yang bertujuan mengatur kebijakan-kebijakan dalam percepatan menuju kesejahteraan masyarakat dan negara indonesia. Sampai saat ini saya masih terus berusaha dan berusaha untuk memperjuangkan percepatan menuju Negara Maju yang didalamnya ada tekad untuk mensejahterakan bangsa dan negara.  


Pertanyaan ini lebih personal, dengan banyaknya jabatan yang menuntut aktivitas tinggi, bagaimana Anda mengatur kehidupan Anda sehari-hari?
Ya biasa saja, saya setiap hari tidur di atas jam dua dini hari. Kemudian bangun jam setengah lima langsung shalat subuh, kalau nggak ada acara ya tidur lagi.


Apa saja yang Anda lakukan saat itu ?
Macam-macam, membaca, menulis buku dan banyak lagi.

"Bukan Cinta Biasa..."

Pasca Pilpres 2014 Partai Golkar dilanda prahara. Partai yang pernah berkuasa di era Orde Baru ini terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu Aburizal Bakrie atau Ical dan kubu Agung Laksono. Untuk mengakhiri konflik tersebut kedua kubu sepakat menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk memilih ketua umum (ketum) Golkar yang baru di Nusa dua, Bali, 15-17 Mei 2016.


Ical dan Agung tidak akan maju dalam Munaslub ini. Mereka memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk bertarung di Munaslub. Munaslub ini diikuti delapan calon ketum (caketum), yakni Setya Novanto, Ade Komarudin, Aziz Syamsuddin, Mahyudin, Priyo Budi Santoso, Airlangga Hartanto, Indra Bambang Utoyo, dan Syahrul Yasin Limpo.


Yang menarik, di antara delapan caketum tersebut Aziz Syamsuddin merupakan caketum termuda. Dia dilahirkan di Jakarta, 31 Juli 1970.


Aziz, panggilan akrabnya, harus berjuang ekstra keras menghadapi para seniornya di Munaslub Golkar. Lalu bagaimana peluangnya memperebutkan kursi ketum Golkar?
Tri Joko Susilo, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMPI), menilai Aziz mempunyai peluang besar untuk menjadi ketum Golkar. Alasannya adalah Aziz masih muda, cukup populer, dan aktif di DPR.
“Saya prediksi Aziz akan head to head dengan Ade Komarudin,” kata Tri.


Sementara itu Chief Executive (CEO) Panggung Indonesia Ichwanudin Siregar mengatakan, Golkar di masa depan perlu dipimpin oleh tokoh muda modern dan inovatif. “Aziz adalah tokoh muda mumpuni yang bisa menjawab masalah ini,” kata Ichwanudin.

Kata Mereka : Nasir Djamil (Anggota Komisi III DPR RI)

Nasir Djamil (Anggota Komisi III DPR RI)

"Saya berharap Munaslub ini bisa berjalan dengan demokratis sesuai dengan semangat rekonsiliasi dimana Golkar membutuhkan pemimpin yang bisa mengayomi kepentingan masing-masing kubu. Keadaan itu bisa terlaksana kalau Munaslub berjalan dengan jujur dan transparan dan akuntabel. Kompetisi munaslub kali ini terlihat semakin sehat, ada orang-orang muda di situ, ada Aziz Syamsuddin. Aziz bagus, dia punya pengalaman sebagai kader dan juga sebagai pengurus. Aziz juga pernah menjabat sebagai Ketua KNPI." (Albar)

Kata Mereka : Yunarto Wijaya (Pengamat Politik Charta Politika)

Yunarto Wijaya (Pengamat Politik Charta Politika)

 “Menurut saya bukan hanya Golkar, hampir semua partai alangkah baiknya memilih simbolisasi regenerasi dengan lebih memberi kesempatan untuk pemimpin muda ditambah untuk Golkar secara khusus yang kita tahu partai ini dianggap sebagai partai lama, partai Orde Baru, partainya orangtua, sehingga ketika ada keberanian untuk memberikan kesempatan buat politisi muda menjadi ketua umum Golkar, menurut saya itu akan lebih memperbesar peluang Golkar untuk memperbaiki citra, memperbesar captive market Golkar juga yang selama ini banyak diisi oleh orang-orang tua. Soal posisi Aziz Syamsuddin, dia sekarang kita tahu sekretaris fraksi, dulu komisi III juga memiliki peluang cukup kuat dan pantas diperhitungkan.” (Giattri)

Kata Mereka : Teuku Taufiqulhadi (Anggota Fraksi Partai Nasdem DPR-RI)

Teuku Taufiqulhadi (Anggota Fraksi Partai Nasdem DPR-RI)

“Golkar adalah partai besar dengan kader – kadernya yang sangat berpengalaman. Karena kader-kadernya adalah kader kawakan maka Partai Golkar membutuhkan pimpinan yang tepat dan memiliki kewibawaan. Seharusnya menurut saya pimpinan Golkar itu adalah yang memiliki kemampuan untuk membuat komunikasi yang luas, itu yang paling penting. Karena kekuatan sebuah Golkar selama ini adalah dari komunikasinya yang handal, yang cool maka harus ada pemimpin yang memiliki kemampuan komunikasi handal, khususnya komunikasi ke dalam dan keluar. Demikian pemimpin juga harus memiliki track record yang bagus..” (April)

Kata Mereka : Gun Gun Heryanto (Dosen UIN dan Konsultan)

Gun Gun Heryanto (Dosen UIN dan Konsultan)

“Soal sosok muda yang pantas memimpin Golkar, dari 8 sosok itu ada beberapa sosok muda yang punya prospek ke depan entah itu Pak Ade Komaruddin, Pak Mahyudin, atau Aziz Syamsuddin. Tapi yang jelas kriteria itu yang paling utama adalah soal integritas, jangan kemudian berpotensi punya masalah hukum dan etika.
Sosok muda itu yang rajin turun ke bawah, yang kemudian mampu membangun kohesi politik di infrastruktur partai dari DPP hingga ranting. Punya pengalaman memimpin organisasi underbow di Golkar, entah itu Kosgoro atau MKGR itu yang menurut saya menarik untuk menjadi pemimpin Golkar. Kemudian, kriterianya adalah orang yang punya paradigma dan visi jelas membangun Partai Golkar kedepan, contoh misalnya tahun 1999, Golkar dihajar habis, Akbar Tanjung mampu menyelamatkan Partai Golkar dan menjadi pemenang lagi di Pemilu 2004.” (Giattri)

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

     

Popular

  

Photo Gallery

     

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250