Search:
Email:     Password:        
 





RONNY LUKITO, CEO PT Eigerindo MPI

By Syulianita (Editor) - 24 July 2019 | telah dibaca 1920 kali

RONNY LUKITO, CEO PT Eigerindo MPI

The Pioneer of ‘TROPICAL ADVENTURE’

 

Naskah: Giattri F.P. Foto: Sutanto/Fikar Azmie/Dok. Eiger

 

Jadilah trendsetter, bukan follower. Frasa  ini diamini benar oleh CEO PT Eigerindo MPI Ronny Lukito. Karenanya, pria kelahiran 15 Januari 1962 tersebut pun gigih berjuang agar produk Eiger yang dirilisnya menjadi produk kebanggaan bangsa. Usahanya berbuah manis, Eiger kokoh bertahan sebagai pemimpin pasar dalam industri tas dan petualangan di Indonesia, juga sukses menasbihkan diri sebagai brand ‘Tropical Adventure’.

 

Berdiri sejak 1989, Ronny mengawal Eiger terus berinovasi untuk menghadirkan berbagai produk yang mumpuni dengan kualitas tinggi. Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dengan iklim tropis tentunya memiliki hamparan kekayaan alam yang menantang untuk dijelajah. Untuk mengakomodir semua keperluan perlengkapan outdoor di alam tropis, Eiger pun mantap mensuplai produk khusus iklim tropis, setelah melalui riset dan uji coba yang panjang. Ronny menerangkan, jika pemilihan spesialisasi alam tropis ini karena fakta menunjukkan sebanyak 40 persen populasi manusia hidup di iklim tropis. Sementara, keanekaragam flora dan fauna sebanyak 66 persen, serta berbagai jenis serangga sebesar 80 persen. Hal inilah yang memacu Eiger untuk mengakomodir semua perlengkapan outdoor khusus di iklim tropis. Untuk menegaskan kembali sebagai brand tropical adventure, Eiger melakukan kampanye dengan tagline “Tropical Adventure”. Menyusul dua sub tagline kampanye lainnya, yakni 23,5’ dan Your Tropical Discovery. Angka 23,5’ sendiri diambil dari letak daerah tropis yang dibatasi oleh dua garis khayal bumi, yakni 23,5’ LU dan 23,5’ LS.

 

Ronny mengungkapkan kepada Men’s Obsession, “Selain data dan fakta tersebut, belum ada satu pun brand di dunia yang secara khusus fokus untuk perlengkapan outdoor tropis. Semua rata-rata produk outdoor itu 4 musim, mayoritas mereka dari negara-negara Eropa dan Amerika. Saya menangkap peluang tersebut.” Setelah selesai dengan ekspedisi Black Boreneo pada 2016 dan Ekspedisi 28 Gunung pada peringatan hari Sumpah Pemuda tahun 2017 lalu yang berhasil masuk ke dalam Museum Rekor Indonesia (MURI), Ronny menuturkan, Eiger akan kembali melakukan ekspedisi untuk menunjukkan komitmennya sebagai brand tropical adventure sekaligus memperlihatkan kualitas produknya.

 

Eiger memilih gunung Hkakabo Razi yang diduga merupakan gunung tertinggi di Asia Tenggara. “Tim EAST (EIGER Adventure Service Team) sedang mempersiapkan ekspedisi itu. Tidak mudah untuk masuk ke sana, mudah-mudahan ekspedisi  yang kami namakan Ekspedisi Merah Putih ini akan terwujud pada tahun 2020, bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus. Jadi, kami akan mengibarkan bendera Merah Putih di sana. Niat kami ini bisa menjadi catatan tersendiri, bukan hanya untuk Eiger, tapi juga untuk kebanggaan Indonesia,” paparnya. Lebih lanjut Ronny mengatakan, selama empat tahun terakhir hingga tahun 2020, Eiger masih berfokus di pasar lokal karena Indonesia sangat potensial dengan jumlah penduduk yang besar dan kondisi demografis-geografisnya yang luas.

 

“Jadi, kami membuka banyak chanel distribusi dulu. Setiap tahun kami membuka 40-an outlet, bahkan tahun 2017 sangat ekspansif, yaitu 87 outlet, dan tahun ini rencananya kami membuka 45 outlet. Tahun depan, kami akan ngegas lagi, sekitar 60 outlet. Total hingga kini baik outlet sendiri atau yang dimitrakan berjumlah hampir 300. Selain offline, online pun kami jalankan. Rencana berikutnya tahun 2021 atau 2022, saya targetkan Eiger harus mendunia dan menjadi yang terbaik. Tahun ini, kami akan mempersiapkan membuka outlet pertama kami untuk go international di Swiss,” tegas Ronny penuh semangat.

 

Legacy untuk Indonesia

Ronny dikenal sebagai sosok yang menyukai tantangan juga gemar membangun sesuatu yang baru dan belum pernah dilakoni siapapun. Karenanya, ketika ditanya apa legacy yang ia berikan untuk negeri ini, dengan lugas ayah dari Jeanne Lukito, Agnes Lukito, Michelle Natalie Lukito, dan Angel Natalie Lukito itu memaparkan tiga rencana besarnya. Pertama, seiring dengan koor bisnis Eiger, ia akan mendirikan Eiger Adventure Land di Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, tepatnya di kaki Gunung Gede-Pangrango, luasnya kurang lebih 300 hektare, bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah memberikan izin pengembangan usaha wisata alam selama 55 tahun dan bisa diperpanjang 2 x 25 tahun.

 

“Jadi, kurang lebih bisa 90 tahun. Doakan bisa kami wujudkan. Ini akan membanggakan karena di sana playground-nya Eiger, bisa menguji produk di sana, kegiatan EAST juga akan semakin eksis, dan banyak kegiatan positif lainnya yang akan kami persembahkan untuk generasi muda serta anak-anak pada khususnya. Semoga ini akan memberikan dampak bagi bangsa dan masyarakat,” terang pria kelahiran Bandung ini. Di Eiger Adventure Land, sambungnya, juga akan dibangun Rumah Sehat untuk membantu menyembuhkan beragam penyakit dengan tumbuh-tumbuhan tradisional. Lalu, pihaknya akan membuat Eiger Land, skalanya lebih kecil.

 

“Di belakang rumah saya, ada lahan 4 hektare. Nanti, di Eiger Land akan ada tempat riset, flagship store terbesar di Asia, itu target kami dan sangat eksperiensial. Saya belajar dari brand REI asal Amerika, saya lihat itu di Seattle, saya bertekad kami harus lebih baik,” tegas pria humoris ini.

 

Selain itu, pihaknya juga akan membangun wall climbing tiga dimensi terbaik di dunia. “Kalau tidak salah, di Belanda ada yang tingginya 40 meter, saya akan buat minimum 45 meter karena Indonesia merdeka kan tahun 1945. Kalau ini terwujud akan membanggakan semua pihak,” tutur Ronny. Untuk waktu pelaksanaannya sendiri, pihaknya akan mendahulukan Eiger Adventure Land, tahun 2019 ini antara bulan Oktober hingga Desember, akan dilakukan peletakan batu pertama.

 

“Butuh dua tahun untuk tahap satu. Setelah beres pada tahun 2023, rencananya kalau Tuhan mengizinkan dan semuanya berjalan lancar, kami akan bangun Eiger Land. Kami juga ingin membangun rumah sakit spesialis untuk menolong orang-orang yang tidak tertampung di RS lainnya. Semoga harapan ini didengar oleh Yang Maha Kuasa,” ungkapnya dengan tulus.

 

Ronny juga menguntai rencana lainnya, yaitu ingin membuat desa mandiri atau madani di desa-desa yang membutuhkan pertolongan. Hal itu sudah dimulai oleh Pembina Yayasan Anugerah Sempura tersebut dengan membangun PAUD dan SD Eagle School yang bertaraf internasional di Rote, Nusa Tenggara Timur, yang sudah dirintisnya selama lima tahun. “Saya juga sudah mulai masuk ke pemberdayaan, membuat lahan pertanian kurang lebih 20 hektare, hingga pada akhirnya kami membuka obyek wisata juga di situ. Jadi, kami mengubah desa yang semula dikenal sebagai desa terkutuk menjadi desa yang bisa memberkati banyak orang,” urai Ayah empat putri tersebut.

 

Ronny juga bertekad untuk membuat bangsa ini bangga, ia menegaskan, Eiger harus menjadi bintang di segmen tropical adventure, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. "Target saya itu tahun 2022. Semoga apa yang saya cita-citakan bisa terwujud dan menjadi legacy untuk bangsa Indonesia, keluarga saya, serta menginspirasi generasigenerasi yang akan datang,” tandasnya.

Bangkit dari Keterpurukan

Boleh dikatakan wawancara khusus dengan Ronny adalah salah satu pengalaman menarik bagi Men’s Obsession. Pasalnya, dilakukan di alam terbuka. Tepatnya di Area Hutan Pinus, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Kami masuk ke sana melalui pintu masuk Dusun Bambu Family Leisure Park yang didirikan Rony. Untuk mencapai lokasi hutan pinus itu, kami harus menunggangi mobil bernama Wara-Wiri yang disediakan oleh pengelola Dusun Bambu. Tak sampai di situ, kami pun harus melewati jalan yang menanjak. Namun, rasa lelah terbayarkan karena sepanjang jalur kami disuguhkan pemandangan indah dengan udara yang segar. Usut punya usut, hutan pinus tersebut, tadinya gundul. Dan, tujuh tahun lalu Ronny bersama teman-teman komunitas berinisiatif untuk melakukan penghijauan.

 

Di hutan pinus yang cukup luas dan rindang, kami pun berbincang mengenai banyak hal menarik, mulai dari kisah perjuangan Ronny dalam menghadapi peristiwa yang hampir meruntuhkan bisnisnya hingga bisa kembali bangkit sampai ekspansi Eiger ke depan. Berikut petikannya.

 

Pohon yang ada di sini Bapak yang melakukan penghijauan?

Tujuh tahun lalu, saya bersama teman-teman di komunitas menanam pohon di sekitar sini. Waktu itu memang ada beberapa lahan di sini yang kebetulan sudah saya beli. Kondisinya gundul. Berdasarkan masukan dari teman-teman semua untuk mencoba menghijaukan kembali seperti dahulu kala, kalau tidak salah 80.000 pohon yang kami tanam seluas kurang lebih 20 hektare.

 

Eiger sudah bertahan hingga saat ini bahkan merajai outdoor apparel di Tanah Air, bisa diceritakan tipsnya?

Memang membangun brand itu butuh proses dan waktu, tidak mudah. Eiger juga tanpa terasa sudah mencapai 30 tahun. Proses demi proses, tahap demi tahap, kami lalui. Saya bersyukur tim selalu fokus kepada product development. Kami selalu konsen terhadap continuous improvement dan selalu menguji produk-produk kami. Eiger ada tim EAST yang selalu menguji produk-produk baru, terutama yang teknikal. Akhirnya ketahuan apa kekurangannya. Lalu, kami uji lagi dan perbaiki, baru kami rilis.

 

Kemarin, kami berkesempatan untuk mengunjungi Eiger Flagship Store di Jalan Sumatera, Bandung. Itu salah satu yang terbaik ya Pak?

Ya dan tempat ini sangat bersejarah. Kami grand opening-nya juga menarik, tanggal 12, bulan 12, tahun 2012. Jam 12, lebih 12 menit, lebih 12 detik. Menariknya, konsepnya dari saya dan Ridwan Kamil, yakni green arcitecture. Jadi, pencahayaannya, oksigennya banyak, dan menggunakan material yang di recycle.

 

Hingga saat ini sudah ada berapa Eiger Flagship Store?

Sudah ada 9. Flagship adalah sebuah cerminan dari Brand Experience Eiger. Jadi, kalau di sini atmosfernya lain, ada taman, Eiger Coffee, Eiger Climbing Center (ECC), sistem pemajangan khusus, penyambutanpenyambutan kami beda, standing tv, dan di sini pusat berbagai kegiatan, tiap Sabtu ada weekend blast, live music, hingga talkshow. Konsep flagship itu, saya sudah amati dan pelajari dari negara-negara luar yang sudah berkembang, seperti Amerika, Eropa, saya mempelajari brand-brand yang sudah eksis dan mapan, selalu dia membuat toko yang spesial karena bisa memamerkan semua produknya dengan maksimal.

 

Apa saja kategori produk di Eiger?

Sejak 5 tahun terakhir, Eiger sudah kami kerucutkan dari 5 kategori menjadi 3 kategori produk. Pertama, Mountaineering yang menjadi koor bisnis kami. Kedua, kategori lifestyle yang kami sebut 1989 karena Eiger lahir di tahun tersebut. Ketiga, Riding karena pengguna motor di Indonesia sangat besar, pasti mereka butuh jaket, t-shirt, kacamata, dan seterusnya.

 

Eiger juga sekarang sudah merambah ke segmen pasar wanita berhijab?

Betul sekali karena hasil pendataan kami pengguna Eiger 75 persen adalah pria dan 25 persen itu wanita. Dan, mayoritas pelanggan kami itu berhijab. Sehingga, kami banyak menerima masukan dari customers ataupun komunitas untuk membuat Hijab Series. Akhirnya, kami memutuskan untuk membuat konsep Hijab Series yang cocok untuk daerah tropis.

 

Apa tren ke depan di bidang outdoor apparel ini?

Melihat perkembangan tren-tren dunia, lalu mengikuti update dari berbagai pameran, website, dan seterusnya. Ke depan itu arahnya ke lightweight dan packable. Bahkan, ada yang ultralightweight. Kenapa? Karena penggiat outdoor itu sudah menjadi bagian dari sport, kalau dia bawa barang yang berat dan besar, jadi beban kan.

 

Eiger sudah mengarah ke sana?

 

Sudah mulai. Kami memang belum mengeluarkan yang ultralight, tapi sudah lightweight, pakai material robic yang sangat kuat, tapi sangat ringan. Dia sekelas dengan Cordura, itu juga sudah luar biasa. Nah, tahun depan kami akan merilis yang ultralight. Kami sudah melakukan continuous improvement dalam setiap pengembangan produk kami.

 

Inovasi apalagi yang akan Eiger lakukan?

Banyak sekali. Yang sudah pasti, kami akan fokus ke material yang sustainable karena isu ke depan adalah sustainable. Jadi, Eiger ikut bertanggung jawab untuk ambil bagian di situ. Sehingga, kami berusaha menggunakan material eco-friendly, seperti material PET yang didaur ulang dari limbah botol plastik. Dengan begitu, kami juga ikut mendukung program pemerintah ‘Go Green’.

 

Sekarang itu sudah memasuki era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, bagaimana Bapak menjawab tantangan tersebut?

Revolusi Industri 4.0 identik dengan internet, robot, artificial intelligence, big data. Sedangkan, Society 5.0 identik dengan kehidupan bermasyarakat yang sudah terintegrasi dengan sistem teknologi berupa IoT (Internet Of Things) dan AI (Kecerdasan buatan) yang dapat memproses big data dan menganalisa data tersebut. Langkah yang akan saya lakukan adalah perbaikan infrastruktur data, semua report akan dibuat terpusat dan perusahaan Eigerindo akan diarahkan kepada digital corporate, yang memudahkan pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang telah diolah. Penerapan di retail akan lebih terlihat pada pembangunan logistik dan sistem distribusi yang menggunakan semi robotik, akan dibangun dan diperkirakan rampung di tahun 2020. Intinya perubahan teknologi harus diimbangi dengan perubahan proses kerja, paradigma, dan budaya kerja, sehingga pemanfaatan teknologi akan bermanfaat langsung ke arah kemajuan organisasi dan peningkatan layanan pada customer.

 

Bagaimana dengan e-commerce?

Kami juga fokus untuk pengembangan teknologi digital. Salah satunya, sudah menggunakan metode O to O, online to offline dan sebaliknya offline to online. Jadi, bisa pesan dari website dan diantar barangnya dari toko terdekat. Pertumbuhannya signifikan, sekarang baru 6 persen. Namun, offline tidak bisa diabaikan, Jack Ma pun diam-diam sedang membangun offline untuk produk yang butuh experience. Ke depan, saya ingin dua-duanya harus jalan karena perhitungan saya offline tetap menjadi yang utama. Apalagi produk-produk kami ini banyak teknikalnya. 5 tahun ke depan offline terus dominan, 10 tahun kemudian bisa seimbang. Saya membuat ini sampai 2030.

 

Ilmu apa saja yang diadopsi dari pemain-pemain yang sudah bagus?

Ya kami banyak belajar dari produkproduk pesaing yang sudah berkancah di internasional yang menginspirasi kami, antara lain The North Face (TNF), Mammoth, Black Diamond, Salewa, Salomon, dan Columbia. Beragam inovasi yang mereka gulirkan, kami pelajari dan apa saja kekurangannya karena produk-produk mereka belum tentu sempurna. Sementara, market kami kan nasional, postur tubuh, kaki, size pack-nya berbeda. Iklim kita juga kan berbeda, kita tropis, mereka empat musim. Jadi, kami berhati-hati sekali dalam berinovasi. Sehingga, yang kami lakukan adalah amati, teliti, dan modifikasi (ATM). Eiger selalu berinovasi dan berusaha menjaga kualitas, kualitas, kualitas, mutu atau mati! Mutu harga mati!

 

Advisor Bapak siapa sehingga bisa merencanakan sedemikian detailnya?

Kami punya konsultan juga tim yang luar biasa. Tim pemikir, sekitar 5 – 6 orang. Jadi, saya sejak muda beruntung punya kebiasaan, bekerja tidak bisa sendiri. Sehingga, saya selalu berkolaborasi dan bersinergi karena saya percaya dengan semakin banyak orang, akan semakin maksimal karena setiap orang punya keterbatasan. Ada Kang Mamay S. Salim, Kang Bongkeng (red. Djukardi Adriana), Kang Galih Donikara, mereka para expertise yang juga mendirikan EAST. Dan, terpenting Eiger sedari dulu based on communities. Jadi, ada tim hebat dibalik Eiger. Saya tuh jadi seorang dirigen saja, bisa mengajak, memengaruhi, memotivasi untuk bisa bermain musik sama-sama.

 

Ekspansi bisnis ke depan?

Tahun 2021 atau 2022, kami sudah masuk ke internasional. Tahun ini kami akan mempersiapkan untuk membuka jaringan outlet di negara Swiss.

 

Kenapa Swiss?

Ada cerita yang sangat menarik. Saya dari dulu suka dengan Swiss, sudah berkali-kali datang ke sana dan produk-produk asal sana itu terkenal, misal jam tangan. Mereka juga sangat menjaga alamnya dan kebetulan Eiger adalah pegunungan yang ada di sana. Itulah kecintaan saya pada Swiss sehingga tidak salah kalau memulainya dari sana.

 

Bapak pernah mengalami sebuah peristiwa yang hampir meruntuhkan bisnis Bapak, apa nilai kehidupan yang dipetik dari perstiwa tersebut?

Kala itu saya dijuluki Golden Boy dari Bandung karena saat awal-awal terjun di bisnis properti saya sukses. Dalam waktu 3 bulan, saya bisa menjual 20 hektare. Saya terlena dan berekspansi terlalu cepat tanpa pertimbangan serta bertanya kepada Tuhan, keluarga, juga teman-teman. Tahun 1998 kami mengalami kebangkrutan, padahal koor bisnis kami bagus. Di situ saya menyadari, harus bertobat dan berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, saya minta kesempatan satu kali saja.” Orang tahu saya aktif di gereja, saya juga tidak ingin mempermalukan nama Tuhan dan keluarga karena orangtua selalu menasehati bahwa tidak boleh meninggalkan hutang. Pembelajaran yang saya dapat pertama, tidak boleh takabur. Banyak orang jatuh karena lupa diri. Bahayanya lagi, banyak keputusan salah, tetapi tidak sadar. Kedua, segala hal harus dikonfirmasikan, didoakan, dan dipertimbangkan terlebih dahulu, tentunya kepada Tuhan, keluarga, tim, majemen, hingga apa yang kita putuskan betul-betul sudah mantap dan bulat. Itu pengalaman yang sangat berharga.

 

Membutuhkan waktu berapa lama untuk kembali bangkit?

Saya back to basic, kembali kepada koor bisnis, yaitu mengembangkan industri tas. Di situ saya konsentrasi lagi, saya down to earth, jadi salesman lagi, organisasi saya rampingkan, ada yang dipercayakan kepada profesional. Bersyukur, Tuhan mendengar doa saya, usaha saya bangkit kembali. Semua hutang saya bereskan dengan gentle. Selama kurun waktu itu saya puasa, tidak belanja, saya pakai baju yang ada, mobil yang saya gunakan juga sitaan dari bank, rumah pun mengontrak, saya tahu diri, saya fokus untuk memenuhi tanggung jawab saya karena itu doa saya dan Tuhan sudah membukakan jalan sehingga saya harus menjalaninya dengan taat.

 

Bapak juga dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap karyawan?

Saya men-treat, karyawan itu seperti keluarga di rumah. Jadi, mereka adalah bagian dari keluarga besar Eiger. Kalau di rumah saja sangat concern terhadap anak-anak kita, kenapa di perusahaan tidak. Sehingga, saya sediakan nursery room untuk ibu menyusui, jadi mereka bisa membawa bayinya ke pabrik, ada susternya juga. Adapula, ruang kesehatan lengkap dengan dokternya dan di jam-jam tertentu kami melakukan senam peregangan agar mereka kembali fresh. 

 

Selain store Eiger juga ada Outlive, bisa diceritakan perkembangannya?

Outlive adalah bagian dari bisnis model dan bisnis strategi yang saya sudah rancang 5 tahun terakhir ini. Indonesia negara besar dan kaya, income per kapitanya menurut McKenzie akan naik dari tahun ke tahun, kurang lebih 10 persen. Jadi, produk-produk luar negeri yang berkualitas tinggi dengan harga mahal, kita harus punya di negara ini karena ada marketnya sekaligus melengkapi produk yang belum mampu Eiger membuat. Sehingga, kami merangkul, berkolaborasi, dan bersinergi dengan brand-brand lainnya. Bukan compete, tapi complete. Secara bisnis ini akan menjanjikan ke depannya.

 

Lantas bagaimana dengan pengembangan bisnis Exsport dan Bodypack?

Exsport adalah mother brand dari semua brand kami. Exsport lahir pada 1979 saya kategorikan di produk khusus women’s urban lifestyle. Sementara, Bodypack yang dibidani pada 1992, saya fokuskan di men’s urban lifestyle. Pertumbuhan keduanya setiap tahunnya konsisten meningkat.

 

Kunci sukses Eiger juga karena menjaga customer engagement-nya?

Betul. Eiger ada hari ini karena mereka. Sejak awal kami berkomitmen berbasis komunitas, Eiger ditolong, dibantu, dibentuk oleh mereka, para pecinta alam, contohnya Wanadri, Mahitala, dan sebagainya.

 

Apa bentuk dukungan Eiger untuk komunitas?

Kedekatan Eiger dengan komunitas dibuktikan dengan 80 persen biaya komunikasi kami untuk ke komunitas, baik untuk sponsorship, edukasi, dan lainnya. Kalau ditotal dalam sebulan, kami menerima sekitar 500-600 proposal dari seluruh Indonesia. 20-30 persen di antaranya pasti kami support sampai akhir tahun. Kami sudah merata terafiliasi hampir dengan 1.200 komunitas di seluruh Indonesia, itu beragam, tapi semua nafasnya nature, adventure, dsb.

 

Bagaimana dengan peran media sosial?

Engagement kami paling tinggi dibanding brand lokal lainnya. Kalau di benchmark dengan brand luar, seperti TNF, Patagonia, dan Kathmandu, engagement kami juga masih paling tinggi. Followers kami di sosmed paling tinggi di antara 3 brand lokal dan 4 brand luar. Pertumbuhan kami saja di instagram (IG) bisa sampai 50.000-52.000 dan itu organik. Kami sudah verified account IG 2 tahun terakhir, tinggal sedikit lagi sampai 1 juta. Youtube kami hampir 100.000 Silver Play Button, semoga dalam waktu dekat tercapai. 4 tahun lalu, kami fokus di facebook karena dulu platformnya di sana, 2-3 tahun kami bergeser ke IG, sekarang di youtube. Kalau kami sudah di Silver Play Button, jangkauannya bisa lebih luas lagi.

 

Eiger juga sangat concern dalam memberikan edukasi dan inspirasi, bentuknya seperti apa?

Edukasinya dalam bidang petualangan, kami melihat milenial untuk mendapatkan peralatan yang layak dan hebat itu cukup mudah. Namun, banyak yang tak memahami caranya bertualang yang aman dan nyaman. Karenanya, kami memberikan edukasi. Misalnya, memberikan pelatihan gratis, antara lain Mountain Jungle Course, pendakian massal, kami juga bikin visual konten edukasi, contohnya seseorang dalam kondisi tersesat apa saja yang harus mereka lakukan. Beragam edukasi yang kami hadirkan itu yang membuat engagement kami cukup tinggi. Kami juga punya brand ambassador yang latar belakangnya beragam, yang gemar melakukan kegiatan luar ruang dan passionate, rata-rata mereka influencer, contohnya Ramond Y Tungka, seven summits Indonesia, tinggal Cartenz, sekarang dia sedang menjelajahi berbagai gunung tropis di luar negeri. Darius Sinathrya, tidak ada yang menyangka bahwa dia pecinta alam, anak motor juga, dan family lovers banget. Kemudian ada lagi David John Schaap, dia merepresentasikan milenial sejati.

 

Bagaimana dengan aktivasi offline?

Kami bikin event besar di toko sampai grand event, tahun ini kami ada Tropical Adventure Festival. Direncanakan akan
digelar pada bulan Oktober, menghadirkan pembicara dari luar dan dalam negeri juga. Kami targetkan 1.500 pengunjung, kami buat tertutup agar tidak terlalu membludak. Loyalitas komunitas kami sangat baik. Personality kami bisa dilihat dari jajaran brand ambassador kami, ada Putri Handayani yang saat ini sedang menjalani proses Grand Slam (pendakian 7 pundak tertinggi dunia dan penjelajahan Kutub Utara dan Kutus Selatan). Di climbing, ada Alfiansyah dan Ayu, peraih medali emas yang sekarang lagi bertanding di Jepang. Kami juga akan support Timnas di Tokyo dan 2024 di Prancis. Climbing sudah menjadi roh Eiger di luar mountaineering. Artinya kalau timnas kita berprestasi, Eiger mau ada di situ untuk support. Di setiap flagship kami, ada Eiger Climbing Center (ECC). Dari sini sudah lahir nama-nama besar di panjat sejak tahun 2004, di antaranya Yuyun Yuniar dan Yusuf Zulkarnain.

 

Kegiatan-kegiatan fenomenal yang pernah digelar Eiger?

Banyak. Contohnya, Ekspedisi 28 Gunung yang dilakukan oleh 28 tim yang berbeda, di 28 kawasan yang berbeda, itu serentak melakukan pembacaan sumpah pemuda. Sekarang ditiru oleh seluruh pecinta alam setiap tanggal 28 Oktober. Kami punya visualnya 28 gunung, ketika diputar itu luar biasa. Berkat video Ekspedisi 28 Gunung tersebut, tahun ini, kami juara Indonesia Content Marketing Award yang diselenggarakan oleh Kompas Gramedia. Kami meraih juara satu di kategori retail dan menjadi best of the best di antara brand-brand raksasa lainnya.

 

Tips agar live life to the fullest?

Hidup itu harus takut pada Tuhan karena paradigma kita akan benar. Paradigma itu sangat penting untuk memengaruhi keputusan dan sikap. Lalu, harus continuous improvement. Jangan pernah sombong dan berhenti belajar, harus selalu introspeksi diri karena untuk mengubah dan menciptakan segala sesuatu harus dimulai dari diri kita sendiri, baru bisa mengubah orang lain. Tak kalah penting, spirit of excellence.

Sosok-Sosok Hebat di Dalam Hidup Saya

“Banyak sosok yang menjadi inspirator di hidup saya, tetapi setelah saya memakan asam garam kehidupan, saya merenung, mengaca diri, dan menyadari, ternyata peran Sang Penciptalah paling besar yang membuat saya bisa seperti saat ini,” itulah jawaban yang Ronny utarakan saat di tanya siapa sosok yang paling menginspirasi di hidupnya. “Saya meneladani sifat-sifat Nabi Isa dalam hal kehidupan, kepemimpinan, misalnya,” imbuhnya.

 

Ronny juga mengatakan, sang ayah adalah teladan baginya. Ia merupakan anak lelaki satu-satunya di keluarga Lukman Lukito-Kurniasih, pasangan asal Jakarta dan Buton (Sumatera) yang merantau ke Bandung. Untuk menyambung hidup, orangtuanya memiliki sebuah toko tas. Di era 1970-an, toko spesialis semacam ini belum lazim. “Biasanya orang punya toko kelontong yang jual macam-macam produk,” kenang pria yang memiliki nama kecil Cong-cong itu. Sejak duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, saat liburan sekolah Ronny kerap dibawa Lukman ke toko yang dirintisnya.

 

“Namanya toko Nam Lung, yang berdiri di Jalan ABC No. 3 Bandung. Kadang, saya membantu menjaga kasir, membungkus atau membereskan tas-tas yang terpajang di etalase maupun tergantung di dinding toko. Bahkan, saat usia 9 tahunan, saat toko ramai, papah menyuruh saya untuk melakukan tawar-menawar dengan pembeli,” kisahnya. Toko milik ayahnya, selain menjual tas produk perusahaan lain, ada pula tas-tas sederhana hasil jahitan sendiri. Mereknya Butterfly. “Namanya diambil dari merek mesin jahit buatan China yang kami pakai,” ujar Ronny. Tahun 1979, Ronny lulus STM, ia ingin melanjutkan kuliah, tapi orangtua tak mampu membiayai. Namun, ia yakin ini sudah jalan Tuhan. “Kalau saat itu kuliah, mungkin tidak ada Eiger, mungkin saya akan membuka bengkel,” tutur Ronny sembari tersenyum.

 

Ia menggarisbawahi, banyak ilmu yang ia dapatkan dari sang ayah yang memiliki sense of business dan jiwa entrepreneurship yang bagus. “Papah membentuk saya sehingga saya banyak belajar, antara lain tentang kerja keras, integritas, dan kejujuran,” kisahnya. Setelah mendapat cukup ilmu dari sang ayah. Ia ingin mengembangkan bisnis tasnya sendiri. Buah tak jatuh dari pohonnya, ia menjadi pengusaha andal yang dimulai hanya bermodalkan Rp1 juta, ia menjahit tasnya sendiri dengan dua mesin jahit, kini usaha yang dirintisnya sukses merajai pasar Indonesia di bidang outdoor apparel. Lebih lanjut Ronny menuturkan, istri tercintanya, Meiliana Setiawati, juga memiliki andil begitu besar dalam meraih kesuksesan.

 

“Betul kata orang, di balik kesuksesan seorang pria, terdapat peran wanita. Tadinya saya kurang setuju,” akunya. Namun, pandangan itu berubah, ketika Ronny berada di tidik nadir kehidupan, istrinya tak lelah untuk mendampingi dan memberikan banyak nasehat untuknya. “Istri saya menyelamatkan hidup saya, menyelamatkan perusahaan karena dia mengikuti, dia juga tahu kondisi saya, kelebihan dan kekurangannya saya. Setiap saat, dia memberi nasehat. Istri saya ini luar biasa di mata saya,” terang Ronny. Sejumlah nama lainnya adalah Paulus Bambang yang mendorong Ronny melakukan breakthrough dalam bisnisnya, Abah Iwan yang banyak mengajarkannya tentang alam. “Selain itu, Tanri Abeng dan Hermawan Kartajaya,” pungkasnya. 

 

Kata Mereka

 

Bagi saya Pak Ronny adalah paduan dari entrepreneur sejati dan pembelajar sejati. Tidak hanya mengandalkan intuisi dan pendekatan praktis, tapi juga mau mendalami diksi. Itu sebabnya, karyanya tidak lekang oleh zaman. He always put his heart in every project he is in. Sehingga, terlihat tidak sembarangan, serampangan, dan sekenanya, tapi menghasilkan karya yang membuat banyak orang berdecak kagum. Kemudian, yang saya kagumi dari beliau adalah semangat yang tak pernah padam untuk mendengar dari orang lain serta ketaatannya mendengar dari Tuhan membuatnya berbeda. Tentang keahlian banyak yang bisa mencontoh, tapi tentang ketaatan kepada Tuhan, beliau termasuk pengusaha langka. Jadi, menurut saya pantas kalau Pak Ronny dijadikan tokoh dan saya ikut mengamininya.

-Bambang Widjarnako Santoso (Direktur PT Astra International Tbk)-

 

Saya kenal Pak Ronny Lukito sudah lama sekali kira-kira 15 tahun lalu saat masuk Wanadri 1964. Dulu kami sering naik gunung bareng. Lalu beberapa teman di Wanadri berinsiatif membuat peralatan gunung, sampai akhirnya tahun 1980-an muncul produk Eiger yang didirikan Pak Ronny. Bagi saya Pak Ronny sudah banyak memudahkan banyak orang termasuk saya untuk memasuki desa-desa terpencil dan mencapai puncak-puncak gunung. Bisa dibilang seluruh peralatan yang saya pakai dari ujung kepala sampai kaki adalah produk Eiger. Dan, sekarang menurut saya Eiger sudah bisa bersaing dengan produk dunia karena kualitasnya yang mantap. Selain karena kesuksesannya itu, hal yang membuat saya suka dan bangga dengan Pak Ronny adalah dia ternyata orang yang peduli terhadap lingkungan, dia seorang aktivis lingkungan yang peduli terhadap keberlangsungan alam. Suka menanam pohon, menjaga kebersihan alam, dan selalu mengajak orang untuk mencintai alam dan lingkungan. Jadi, memang secara alamiah karena kita orang gunung dan Pak Ronny bergerak di bidang itu kita menjadi lebih akrab. Pesan saya kepada Pak Ronny hiduplah penuh arti, penuh isi, penuh bakti kepada Tuhan, Tanah Air, dan kemanusiaan.

-Iwan Abdurachman/Abah Iwan (Wanadri dan Musikus)-

 

Saya pribadi kenal Pak Ronny sekitar tujuh tahun lalu saat Pak Ronny menjadi tamu Kick Andy. Sejak itu, kami berteman karena diikat oleh visi dan minat yang sama, yakni membantu orang lain. Saya mengagumi Pak Ronny karena perjuangannya membesarkan Eiger dari sebuah perusahaan pembuat tas peninggalan orangtuanya, yang kala itu masih kecil, hingga bisa sebesar sekarang. Menurut saya, Pak Ronny bukan sekadar membesarkan Eiger demi mendapatkan kekayaan sebesar-besarnya, tetapi ada misi mulia yang dia yakini dan pegang teguh dalam berbisnis, yakni bagaimana dalam mengembangkan usaha, tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Itu yang saya salut. Jika pengusaha lain mendapatkan izin pengelolaan lahan dan menggunakan lahan tersebut untuk membangun mall, hotel, dan industri lain yang merusak lingkungan, Pak Ronny justru menjalankan bisnisnya dengan konsep menjaga dan melindungi hutan yang ada di lahan tersebut. Bahkan, lahanlahan yang tadinya rusak justru dikembalikan fungsinya, walau untuk itu dia harus mengeluarkan banyak investasi dan mengurangi keuntungan. Pak Ronny yang saya kenal juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sudah berkali-kali saya mendapat bantuan untuk kegiatan sosial. Terutama yang ada kaitannya dengan masyarakat miskin dan pedesaan. Dia orangnya rendah hati dan punya visi kebangsaan yang kuat.

-Andy F. Noya (Wartawan & Presenter)-

 

Saya kenal Pak Ronny sudah lama sekali mungkin 15 sampai 20 tahun yang lalu. Saya kenal dari proses bisnis pertamanya, lalu kami ke gereja sama-sama, di sana saya mengenal Pak Ronny. Menurut saya, Pak Ronny adalah orang yang jenius, idenya cemerlang, cara berfikirnya out of the box, dan banyak sekali idenya tak pernah berhenti. Pak Ronny menurut saya juga orang yang baik, suka menolong. Tujuan hidupnya digunakan untuk kemaslahatan banyak orang. Jadi, saya liat orang seperti Pak Ronny memang jarang. Kenapa? karena selain sukses, Pak Ronny juga orang yang cinta terhadap Tuhan. Sedikit orang yang sukses, tapi cinta terhadap Tuhan, Pak Ronny melengkapi keduanya. Saya berharap, ke depan dia semakin berkembang dan semakin mengenal Tuhannya. Semakin melayani dan terakhir pesan saya secara khusus adalah jangan terlalu sibuk dan terlalu capek.

-Andy Setiawan (Motivator)-

 

 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     
                       

Popular

   

Photo Gallery

   
 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250