Pahlawan-pahlawan Terlupakan

Tan Malaka memang justru sangat berkibar di Eropa ketimbang di negerinya sendiri. Tak heran jika Poeze, peneliti senior sekaligus Direktur KITLV Belanda, menulis disertasi mengenai Tan Malaka pada tahun 1976, lalu menulis buku kisah perjalanan hidup Tan Malaka hingga akhir hayatnya pada 1949, termasuk mengungkap lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur, dan juga penembaknya.
Apa yang membuat Tan Malaka begitu menarik? Itu semua lantaran kisah perjuangannya yang sungguh luar biasa untuk kemerdekaan Tanah Air-nya, namun justru berujung pada pembunuhan oleh bangsanya sendiri. Padahal, lebih dari tiga dekade Tan Malaka mencoba merealisasikan gagasannya dalam kancah perjuangan Indonesia. Perjuangannya bersifat lintas bangsa dan lintas benua.
Lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, pada 1896, Sutan Ibrahim bergelar Datuk Tan Malaka menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pulang ke Indonesia tahun 1919 ia bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli.

Ia berjuang menentang kolonialisme tanpa henti selama 30 tahun, dari Pandan Gadang, Bukittinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri, Surabaya, hingga Amsterdam, Berlin, Moskow, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, dan Penang. Tan Malaka sesungguhnya seorang ...